Sebuah Pesan

image

Katanya, warna kuning mewakili perasaan hangat dan bahagia. Itu juga yang aku ingin kamu rasakan di hari yang dingin dan berhujan seperti sekarang.

Dunia, sayang, serupa permainan belaka. Hanya sementara.

Maka, semangat yang membara saja. Biar nanti di penghujung hari akan Tuhan katakan, kamu sudah melakukan yang sebaik-baiknya bisa kamu lakukan sayang.

Bahagialah sekarang dan selama yang kamu inginkan.

Menenangkan Rindu

image

 

Warna yang sama bisa tampak
sunyi dan riang sekaligus.
Langit paham hal-hal
semacam itu.
Kata-katamu bicara
terlalu banyak
tapi tidak pernah cukup.
Langit selalu cukup
dengan cuaca dan pertanyaan-
pertanyan.

M. Aan Mansyur

Hey Jude for your lullaby

Kinda hard to sleep? Same here! I was searching for some songs for my lullaby, when I suddenly remembered this song. One day, somebody told me that instead of a lullaby, his mom usually sang him Hey Jude! How cool, isn’t it?!

I love the song like sooo much.. but I wonder, how will I encounter it? I maybe fall asleep right before I realized, or I maybe just stay awake until the sun is rising up. Let’s not be worried about how will I react, let’s just enjoy the song and the old clip. This is so much epic! 🙂

Membawa Serta Lupa

Aku butuh kertas dan pena
dan menulismu segera
sebelum lupa
Bahwa aku akan lupa
Dengan segera
Segala cerita
menyangkut dirimu
dulu

Ah, di mana kenangan
tadi kusimpan?
Jangan-jangan justru lupa
kubawa serta

Eh, aku harus lekas
Kuseret kakiku tegas

Hei, kenapa mesti tergesa?
Hatiku bertanya
Benar juga
Langkahku melambat
Tapi justru melupakanmu

Cepat

PS: untuk kamu yang sedang bersedih, iya kamu, lupa itu hanya urusan waktu

Catatan lari pagi

Kamu tidak pernah tahu sejauh apa
Kamu mampu berlari
Juga tak pernah berpikir tentang berapa besar
kekuatan yang kamu miliki

Jangan memandang diri rendah
Kamu tidak lemah

Kamu memiliki kekutan itu
Bahkan jauh lebih banyak daripada yang bisa
kamu bayangkan

“Seberapa jauh kamu mampu berlari hari ini?” Tanyamu menyelidik.

“Sejauh-jauhnya,” jawabku, “selama bersamamu, insyaAllah aku mampu.” Lanjutku.

Senyum di wajahmu lalu merupa lupa apa saja yang berat di kepala, apa saja yang berat di hati.

Ayo lari lagi. 🙂

dari Sebelum Sendiri

Dia tidak menuliskan judulnya apa. Saya jadi sedikit kesulitan mencari judulnya di sini. Dan sebenarnya puisi ini sudah lama nyangkut di kepala, sudah sejak pertama bukunya datang dibungkus kertas cokelat, di depan pintu, beberapa waktu lalu. Saya gemas. Puisi ini harus ada di blog ini.

Maka selamat menikmati…

barangkali kau, barangkali
aku, telah tersesat sungguh
sejauh ini – kata dan kita
saling ingkar.

orang-orang menyebut cinta.
tapi kita sedang berpikir

tentang laut yang selalu basah
demi langit yang selalu ingin
kering.

-M. Aan Mansyur,
dari Sebelum Sendiri

Ngomong-ngomong selamat Hari Puisi Nasional ya.. 🙂

Mari hidup seribu tahun lagi. Cheers!!