Narcissus

seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan
     telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau
     padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan
     selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu
     berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air hening
     kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi
     daun lagi?

Sapardi Djoko Damono, 1971

dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata
dan menatap wajahmu. aku temukan

kata-kata yang siap tumbuh lagi.
tapi menulis puisi ialah melupakan
dan meluapkan ingatan.

sejak itu hari selalu terbaca
sebagai buku yang seluruh berisi
catatan penutup yang panjang.

kadang-kadang datang
seorang menghibur: tidak ada
permukaan indah tanpa kesedihan
di dasarnya.

dan aku mendambakan
sebaliknya.

-M. Aan Mansyur

Buku Harian, 28 Oktober

Hujan mengubah jalanan musim kemarau  semacam
cermin yang mengganti namaku jadi Biru

Kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan
selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali
bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling
bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan
payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama
dengan teduh.

Jalan-jalan sempit. Tangga yang sambung menyambung.
Dinding-dinding yang saling berdesak (tapi kita telah kebal pada klaustrofobia). Polisi yang basah kuyub.
Kucing hitam yang menggigil di atas tembok. Pintu-pintu yang terkunci. Apartemen-apartemen kosong. Jendela yang tak memantulkan apa-apa selain gelap…

Tak ada yang lebih jauh dari bentang di balik tirai hujan
di tepi payung.

Ketika hujan berhenti, matahari telah pergi. Langit pekat, dan kita tahu, tak akan ada pelangi.

Kata satu suara dari film lama:
                 Cinta adalah rentang waktu.
                 Tak baik bertemu orang yang tepat
                 Terlalu cepat atau terlambat.

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin
yang mengganti namaku jadi Biru.

(dari Buku Tentang Ruang
oleh Avianti Armand)

Cara Mengingatmu

Kamu selalu mengernyit
Setiap kali menyengaja aku lupa
Kutambahi gula pada
setiap kopimu yang pahit

Tapi kamu minum juga

Aku tidak pernah percaya
bahwa
Rasa pahit mampu membuatmu
Berdiri lebih kokoh
ketika semua hal di sekitarmu
Menyuruhmu
roboh

Dan kamu tidak pernah percaya
bahwa
Rasa manis mampu membuatmu tertawa
Bahkan di saat semua hal di sekitarmu
Menyuruhmu
berlinang duka

Tapi kopi pahitmu kuminum juga

Dan kamu tertawa

Setelah itu aku tahu
Aku adalah si dungu
yang menyengaja lupa
Ketika melewati kasir tanpa membeli gula

Aku ingin mengingatmu

Kopi pahit, kernyit di mukaku
Dan kamu tertawa

Don’t Worry, begitu dia bilang

Maha Suci Allah yang di tanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S 67:1)

Begitu sih menurut sepotong ayat yang acak saja saya baca. Kebiasaan yang saya lakukan kalau sedang butuh jawaban atau sesuatu yang bisa membuat hati kembali tentram. Kebiasaan yang ajaibnya benar-benar mengembalikan kedamaian hidup saya. Mohon maaf kalau diksinya membuat sakit mata.. XD

Tapi saya harus bilang, ini selalu berhasil setiap kali hal yang sama saya lakukan. Pernah saya coba membaca mulai dari ayat yang terakhir kali saya baca, tapi saya tidak menemukan jawaban yang saya cari. Saya mencoba hal itu dua sampai tiga kali, saya tetap tidak menemukan yang saya cari.

Ketika kembali membacanya secara acak, jawaban demi jawaban dari berbagai persoalan yang sedang saya hadapi seperti disuguhkan begitu saja tepat di depan mata. Karena itu saya berkesimpulan, saya bisa kembali meluruskan kerja otak saya yang kusut ketika saya membaca ayat suci Al-Qur’an secara acak.

Hal yang sama juga saya lakukan tepat sebelum saya membuat tulisan ini. Ada beberapa hal yang membuat hati saya mendadak resah. Hehe.. Biasanya saya tidak mem-posting hal-hal semacam ini, tapi entah kenapa saya ingin melakukannya hari ini. Gak apa-apalah ya sesekali. XD

Seiring menulis, saya meyakini, saya bukan satu-satunya orang yang menemukan keajaiban membaca ayat suci Al-Quran seperti yang saya lakukan. Sama sekali tidak ada niat riya. Dan saya percaya, Allah satu-satunya Zat yang bisa saya mintai apa saja. Allah satu-satunya Zat yang bisa saya mintai beragam kosakata dari bahasa apa saja.

Tidak ada yang tidak bisa Allah lakukan, karena seperti yang Al-Mulk ayat satu sebutkan, Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Lalu mengapa kamu bersusah hati?

Yeah don’t worry.. begitu dia bilang. XD

Kehilangan Juli

Juli datang. Mengetuk pintu di depan. Tak lama waktu yang dia perlu. Juli masuk. Mencari tempat duduk.

Pada sebuah ruang, Juli berputar. Dinding. Pintu. Dan jendela. 

Sepertinya aku tidak ada di mana-mana. Masih berkutat seputar Juni. Juga sibuk mencoba begitu banyak cara. Bagaimana melewati Juli? Mungkin melompat ke Agustus. Atau tidur hingga dibangunkan September.

Aku tahu. Juli akan bilang aku menggelikan. Biar. Aku tak mau dengar.

Di dalam ruangan, Juli mulai membunyikan suara. Musik. Dan berisik. Juli juga bernyanyi. Bermain gitar. Menabuh drum. Dan perkusi. Menyebalkan sekali.

Juli datang tidak pernah sendirian. Juli memboyong segala macam ingatan. Juga cerita yang minta dibaca ulang.

Dan Juli tidak pernah peduli. Juli senang jika akhirnya bendera putih kukibarkan.

Setiap kali Juli datang. Sepertinya aku memang tidak ada di mana-mana. Setiap kali Juli datang. Aku (ingin) hilang.

Pulang

Aku rindu tapi tahu
takan sampai aku
padamu
Berputar terlalu lama
Nyatanya membuatku lupa
Kamu pernah ada
di suatu tempat istimewa
yang tidak bisa
sesiapapun temukan di mana-mana

Bagaimana bisa kukembalikan
Selebar peta yang kau berikan

Kamu bilang
Simpan
Kelak jika lupa
Selalu bisa
Kamu temukan jalanmu pulang