A little goodbye

Jumat pagi yang lalu, kita masih sempat bertemu. Jumat pagi ini, tidak. Perbedaannya terasa nyata. Meski aku masih ingin berpura-pura. Kau ada di situ setiap kali aku bergegas pergi. Tersenyum senang, memanggil namaku dan melambaikan tangan.

Wajahmu terbayang. Tanganku gemetar dan akhirnya aku tak sanggup menulis lagi. Aku berhenti – dan kurasa aku butuh cukup banyak waktu untuk kembali. Kembali menemukan keberanian untuk menulis cerita tentangmu.

Tidak apa-apa, jika ingin menangis ya menangis saja. Ucapmu suatu pagi sekembalinya kamu dari berkebun. Aku berdiri terpaku memperhatikanmu, bertanya-tanya dalam hati apa yang baru saja kudengar. Kau menyuguhkan seulas senyum kemudian mengatakan hal yang sama. Kubilang, kalau ingin menangis ya menangis saja. Tidak perlu berpura-pura kuat.

Aku tidak sedang berpura-pura, balasku. Lalu bergegas pergi ke kamarku.

Besoknya, kau bahkan tak mampu bangun dari tempat tidurmu. Dan ketika kusentuh keningmu dengan punggung tanganku, terasa panas di sana. Dan tidak, tentu aku tidak akan menangis sekarang, apalagi di depanmu seperti ini.

Tetapi, tidak hanya punggung tanganku yang terasa panas sekarang. Sudut mataku juga. Sialnya, kau membuka matamu pada saat aku menyeka air mata yang tidak berhasil aku tahan. Dan kau memandangku, lama.

Andai saja aku mempunyai kekuatan istimewa seperti tokoh-tokoh di serial Heroes, aku ingin sekali menjadi transparan. Aku ingin sembunyi dan menyembunyikan air mataku darimu. Atau menghentikan waktu, memperbaiki masa lalu dan mengubah masa depan. Atau, memiliki tangan ajaib yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit. Menghilangkan rasa sakit di dadamu.

Tetapi Tuhan mempunyai cara dan rencana-Nya sendiri untuk memanusiakan manusia. Membuat mereka mengingat kebesaran-Nya. Membuat manusia mengakui ketidakberdayaannya, kelemahannya, ketidaksanggupannya tanpa pertolongan Tuhan Yang Maha Segala. Tuhan Sang Maha Kuasa.

Kamu akhirnya kembali. Manusia akan kembali. Baik percaya maupun tidak. Karena salah satu hal yang pasti dalam kehidupan adalah kematian. Dan setiap jiwa yang hidup akan mati. Dan kematian adalah perihal waktu. Dan kamu hanya perlu menunggu. Ia akan datang. Dan itu pasti.

Seperti Jumat berhujan sore itu. Ketika Bandung mendung seperti ingin mengajak penduduknya murung. Ketika angin bertiup kencang dan dingin menusuk sampai ke tulang. Tiba-tiba kau muncul di kepala, dan aku ingin sekali berdoa. Dan ketika pulang, aku harus tidak lagi bisa melihatmu tersenyum padaku, atau melambaikan tangan atau memanggil namaku.

Dan aku tahu hari seperti ini akan datang. Aku tahu hari seperti hari ini akan datang.

Advertisements

Seandainya

Semalam aku mencari siapa saja
yang bisa kuberikan pertanyaan
atau yang memegang tangan
sekedar membuatku tenang

Yang kutemukan;
Dua bunga berwarna putih yang terlihat kokoh tetapi bodoh
Sepertinya bunga-bunga itu
terlalu tinggi hati dan lupa diri
Mereka lupa Tuhan
Mereka lupa cara menyapa
orang papa

Tidak bisakah mereka ditukar saja?
Aku tidak akan heran jika mereka
merasa hal yang sama

Dua bola mata yang kerap kulihat,
tak bisa kubaca
Aku hanya tahu ia tak rela
Kubilang kita pulang saja
Tubuh ini tinggal belulang
Aku tinggal menunggu waktu saja
Tapi bola matamu tetap berkata
Aku tak rela

Dua bunga berwarna putih itu
Bahkan tidak mengubah posisi duduk mereka
Hanya diam di tempat
Bertanya
Bukan menjawab
Padahal aku datang untuk menemukan jawaban
Bukan pertanyaan
Seperti juga aku
Kamu tak ingin tinggal di tempat ini lebih lama
Dua bunga bodoh itu alasannya
Sungguh mereka lupa
Sepenuhnya lupa
Bahwa seringkali tutur bahasa saja
bisa menawarkan bisa
Seandainya saja
mereka bersedia menjadi lebih peka

HOME; A song for a lonely soul

Have I introduced you to my beloved boyfriend?
Wkwkwk.. don’t give me that kind of face. He said that he want to sing you a song, since he knew you’re missing your home and your love ones.

Honestly, I like to listen to him by myself, but since I’m a nice girl, I don’t mind to share it with you. Oke, let’s stop before I become even crazier.

With my pleasure, Roy Kim:

Untuk L, dengan cinta

Di kepalaku muncul beragam pertanyaan seperti, bagaimana kamu bisa tetap berdiri di antara teman-temanmu malam itu. Sambil memasang senyum yang seperti ingin bilang, aku baik-baik saja dan ini bukan bohong. Bagaimana kamu bisa dengan rapi menyembunyikan kecamuk dalam pikiranmu juga duka yang seperti ingin kamu telan saja sendirian, sedang kami -aku dan teman-temanmu- tahu, kamu tidak sedang baik-baik saja.

Sulit untuk membuatmu bicara, karena aku tahu kamu akan terluka dua kali lebih banyak jika kamu melakukannya. Belum lagi kering luka itu, masihkah harus dijajakan di depan banyak orang? Aku tahu kamu butuh waktu, hanya saja aku tak mau membiarkanmu merasa sendirian.

Teman-temanmu juga sepakat. Maka di sinilah kami, berjajar berimpitan, demi menghadirkan keyakinan dalam dirimu bahwa kami peduli. Adakah kau rasakan perasaan kami, cinta kami, kekhawatiran kami untukmu? Cintaku, kekasihku, tegarlah, tak kuasa kedua kaki ini berdiri jika melihatmu dirundung duka seperti itu. Apa yang bisa kulakukan demi mengembalikan ceria hari-harimu? Cinta, jangan patahkan hati ini dengan luka dan perimu.

Aku menunggumu, kapanpun kamu mau, datanglah, medekatlah, biar kubisikan kisah seorang pangeran cilik dan mawar merahnya. Dia suka memandang senja.

Aku sedang memandanginya sekarang. Lembut warnanya seperti warna dua bola matamu. Warna yang aku rindu. Kamu tahu, senja terkadang bisa bernyanyi? Dia sekarang sedang memutar melodi dan bait lagumu di kepalaku. Lagu yang sering kau nyanyikan, ketika aku rindu.

Cinta, tersenyumlah! Kau tahu kan, aku selalu benci mengatakannya seperti ini. Tapi untukmu, apapun kulakukan.

Dari A, dengan cinta.

Wangi sampo dan menu sarapan pagi

Puisimu tiba
pada sarapan pagi
yang menyisakan sunyi
bunyi piring dan gelas kotor
yang minta dicuci

Sapardi, kamu bilang
menulis puisi tentang api,
tentang kayu, dan tentang
menjadi abu
tentang awan dan hujan
dan ketiadaan*

Puisimu sayang, melulu candu
pada tidur malam malam
yang sulit terpejam

Beritakan kepadaku
Wangi sampo yang menempel di rambutmu
Pagi ini
Adakah bau yang aku kenali?

Beritakan kepadaku, sayang
Menu sarapan pagimu
Hari ini
Adakah sepotong roti, selai senja,
dengan secangkir kopi penuh
rindu yang
kukirim untukmu?

*Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”, dalam Hujan Bulan Juni (1989)

Jika Sendiri

Di atas aspal yang ditimpa terik matahari, aku berjalan tanpa suara. Tanpa berpikir apa-apa.

Kepala ini bandara. Orang banyak berlalu lalang. Tetapi tidak ada yang tinggal.

Seseorang,
duduk di ujung kursi panjang. Seseorang yang lain, di ujung lainnya. Berseberangan.

Itu adalah kau
Itu adalah aku

Selamanya kita,
berada pada jalan dengan tepi yang berbeda. Tak ada temu pada dua titiknya.

Di atas aspal, aku berjalan tanpa suara. Tidak ada kau di sisiannya.

Matahari
bersinar kian terik. Sedemikian lama
hingga tiba di pintu senja.

Tapi memang. Tak pernah ada yang berkata,
Jalan ini mudah. Sudah sejak langkah pertama.