Pintu Kemana Saja Doraemon

Seperti saat ini. Ketika aku ingin tak seorang pun kan menemukanku. Seperti saat ini. Ketika aku ingin menenangkan pikiran dan tak satu pun kuhiraukan. Tepat seperti saat ini. Ketika aku memilih untuk sendirian. Tak usah pedulikan suara-suara sumbang yang tak seimbang.

Pintu Kemana Saja Doraemon sepertinya bisa mewujudkan apa yang kuinginkan. Maka Doraemon kuculik, dan Pintu Kemana Saja-nya kuambil dari Katong Ajaibnya.

Dia bilang, “Kau  mau kemana?”

Kubilang, “Kemana saja. Asal tidak disini.”

Dia bilang lagi, “Mau kutemani?”

Kubilang, “Aku pergi untuk melarikan diri. Jadi tak butuh ditemani.”

Dia bilang, “Sayang sekali.”

Seperti saat ini. Saat yang paling kunanti. Pergi jauh dari tempat ini. Mungkin selamanya. Mungkin tak kembali. Sendiri. Hanya aku sendiri.

“Tempat seperti itu tak pernah ada.” Dia bilang lagi tiba-tiba.

“Sok tahu!”

“Kau ingin pergi ke tempat yang hanya ada kau seorang saja bukan?”

Aku tak menjawab.

“Aku pernah bertemu orang sepertimu. Dia tak pernah menemukan tempat itu.”

“Aku bukan orang itu.”

“Aku tahu. Dia memberi tahuku, kau mungkin akan jauh lebih sulit daripada orang itu.”

Aku tak mengerti yang dia bicarakan.

“Ayolah! Coba pikirkan! Aku datang kesini sengaja untuk kau culik.”

“Hahaha….. Mana ada orang datang untuk diculik?”

“Aku bukan orang. Aku ini robot kucing dari masa depan. Ingat?”

“Ya, robot kucing masa depan yang datang untuk kuculik. Lucu sekali!”

“Ya, robot kucing masa depan yang datang untuk memberi tahu orang bodoh di hadapannya ini bahwa tempat yang dia tuju tak pernah ada.”

Tempat yang hanya ada aku. Apa merupakan suatu ketidakmungkinan? Aku hanya ingin bernapas dengan bebas. Apa itu pun masih berlebihan?

“Aku tahu yang kau pikirkan. Aku pernah mengalami hal yang sama.” Si Doraemon tidak seperti Doraemon lagi sekarang.

Aku belum pergi. Bahkan belum menyentuh tangkai Pintu Kemana Saja itu sedikit pun. Bukannya berniat mengurungkan niat, entah kenapa Doraemon yang tak tampak seperti Doraemon di hadapanku ini seolah menginjak pedal rem-ku kuat-kuat. Tapi aku tak keberatan. Dia tak memaksa. Dia hanya ingin memberi tahu.

“Apa kau lapar?”

Aku tak menjawab. Dia bukan Doraemon.

“Aku lapar. Temani aku makan sebelum kau pergi. Oke?!”

Dia makan. Bukan dorayaki kesukaannya. Tapi nasi dan semangkuk sayur. Dia tidak bulat. Tidak berwarna putih biru seperti Doraemon yang kulihat di TV. Tidak berkumis. Suranya juga tidak serak. Tidak seperti Doraemon yang kulihat di TV.  Dia memakai T-shirt dan celana jeans. Dia tinggi. Lebih tinggi dariku. Apa sejak awal yang kuculik sebenarnya bukan Doraemon?

“Kau siapa?”

Dia tersenyum.

“Masih ingin pergi?”

Tentu saja. Aku tak pernah betah disini.

“Kau tahu, dia tak pernah membiarkan siapapun sendirian. Makanya kubilang, tempat yang kau tuju itu tak pernah ada. Akan selalu ada dia.”

Aku melihatnya. Dia tersenyum lagi.

Dia takkan pernah membiarkan siapa pun sendirian. Orang yang senang, orang yang sedih, orang yang tertawa, orang yang menangis, orang yang dikelilingi banyak orang, orang yang sendirian. Bahkan saat kau berpikir kau sendirian, kau tak pernah benar-benar sendiri. Dia selalu ada.

Tangkai Pintu Kemana Saja Doraemon kupegang. Pintu Kemana Saja Doraemon, apa akan membawaku ke tempat yang kuinginkan? Tangkai pintu kugerakkan. Pintu Kemana Saja terbuka.

Kubilang dalam hati, “Tempat dimana aku bisa menemukanmu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s