And Then They Were None

Category: Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author: Agatha Christie

Sejak melek baca, saya selalu suka dengan novel-novel detektif. SMP saya berkenalan dengan Agatha Christie, sumpah jatuh cinta sampai sekarang! ^_^

Novel Agatha pertama yang saya baca berjudul ‘Murder on the Orient Express.’ Wah… pembunuhnya sama sekali jauh dari yang saya bayangkan! Bagaimana tidak, pertama kali membaca novel bergenre pembunuhan, saya dapati pembunuh tidak hanya satu tapi 12 sekaligus!
ya…ya…saya tertipu habis-habisan! Tapi anehnya saya menikmati penipuan itu! 😀

Nah, novel yang akan saya review untuk pertama kalinya ini, sayangnya bukan novel Agatha yang pertama kali saya baca itu, tapi yang baru selesai saya baca sekitar bukan Mei yang lalu, ‘And Then They Were None.’

Tiba-tiba ingat bahwa sudah lama saya mengincar buku yang satu ini setelah sebelumnya menonton salah satu episode Supernatural dengan judul yang sama.

Dan saat tanpa sengaja menemukannya di Rumah Buku, Agatha langsung saya boyong ke Rumah S, setelah sebelumnya mampir dulu di meja kasir.

And Then They Were None

Cerita bermula saat sepuluh orang yang tidak saling mengenal datang memenuhi undangan di sebuah rumah mewah di Pulau Nego. Masing-masing dari sepuluh orang tersebut memiliki rahasia.

Pada suatu sore, di musim panas yang indah, mereka datang dengan penuh harapan.

Tapi, tiba-tiba terjadi rangkaian kejadian aneh dan penuh misteri. Pulau yang indah berubah menjadi pulau yang penuh kengerian. Satu demi satu dari sepuluh orang itu mati.

Ini adalah novel Agatha Christie yang paling mencekam dan menegangkan.

Novel Agatha yang satu ini berbeda dari novel-novel detektif lain.
Ini adalah cerita detektif tanpa detektif!

Ini saya lampirkan Sajak Sepuluh Anak Negro yang menjadi dasar cerita novel ini:

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua orang anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s