Terperangkap Kamera

Hei! Kau terperangkap dalam kamera.

Biar. Sulit soalnya membuatmu terperangkap di tempat lain, di hatiku misalnya.

Hehe..

Sore itu, aku tak tahu bahwa kau lapar. Kau berjalan menuju kedai makanan itu – bukan tempat favoritku sih, tapi kau berhasil membuatku ikut berjalan menuju kedai yang sama. Tunggu sebentar, apa yang kulakukan di tempat ini? Apa aku lapar? Apa aku ingin membeli sesuatu di sini? Aku kan tak pernah nyaman berada di tempat seperti ini.

Kau tahu bahwa kau harus menunggu minimal 30 menit untuk mendapatkan semangkuk bubur ketan hitam di sini? Atau bahkan hampir satu jam jika kau memesan makanan- entah apapun itu- beserta aneka minuman yang jenis dan harganya berderet di papan menu kedai ini.

Akh, apa pula ini? Kakiku tak mau mendengar otak kiriku memerintah untuk tidak masuk ke kedai itu. Maka di sini aku berdiri, di dekatmu, memesan sesuatu yang terlintas begitu saja di otakku.

“Bubur ketan hitam satu porsi, dibungkus.” Kita memesan menu yang sama hampir bersahutan.

Eh, apa pula ini? Ujung mata kita saling bertautan. Pramusaji di depan tersenyum lebar dengan arti yang tak kumengerti. Hei, kenapa kau juga tersenyum? Aku palingkan wajah, entah kenapa.

         >Hei, hei! Sseharusnya kau bisa lebih manis. Kenapa kau tak ikut senyum?

         >>Diam!

Akh, kenapa sih aku di sini?

……

20 menit berlalu seperti 20 minggu…

Setengah mati kuhindari kontak mata denganmu. Kumainkan handphone, -pura-pura mengirim sms, main games, membuka folder foto- jari-jariku mulai bergerak; dari camera, lalu capture.

Eh, kau ada disana, di dalam kamera. Terperangkap dan tak bisa keluar lagi. Aku heran kau lapar atau mengantuk? Bagaimana bisa kau tertidur dengan menopang dagu di atas meja yang bahkan baru mengenalmu? –Kau tak mungkin sering datang ke tempat inikan? Maksudku, kau tak mungkin tinggal di sekitar sini kan?

“Bubur ketan hitam.” Suara pramusaji memanggil.

Kamu masih tertidur.

Aku berdiri, berjalan menuju pramusaji.

*

Di atap rumah aku memakan bubur ketan hitam yang kubeli tadi. Matahari sudah menghilang di ufuk barat. Kumainkan handphone-ku lagi, mengirim sms (kali ini sungguhan), memutar lagu, membuka folder image; kau masih disana, terperangkap kamera dan tak bisa pergi kemana-mana.

   ***

-End?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s