Puisi Kertas Biru

Pada suatu waktu, di satu detik yang bergerak bersama , di sela-sela kuliah yang padat, dalam sebuah ruang segi empat, seorang dosen terus mengoceh mengenai mata kuliahnya. Dia bicara apa, aku sudah lupa. Mata kuliah apa, itu pun aku sudah lupa.

Tapi aku masih ingat, seseorang menyodorkan selembar kertas berwarna biru berisi sebait puisi, atau yang kupikir seperti sebait pusi.

Merasa tertarik, isi kertas kubaca.

Tak lama, penaku pun mulai bergerak-gerak diatas kertas yang sama. Kubuat empat baris kalimat tepat di bawah empat baris kalimat yang dia buat.

Kusodorkan empat baris puisi yang kini menjadi delapan itu padanya. Eh, dia meneruskan empat baris lain di bawahnya. Dia kembalikan lagi padaku kertas biru itu. Puisi sudah jadi 12 baris sekarang. Aku tambah lagi empat.Dia juga menambah empat.

Begitu terus.

dan terus…

Dan beginilah jadinya:

 

Kedatanganku laiknya sesuatu

yang terbiaskan mata

Aku, dia, mereka, dan mereka

Sampai aku terbiasa dalam alur seperti ini

 

Lalu aku melebur

Seolah hanyut dalam alur yang diatur

Melarut dalam hawa yang akut

Tak bisa tak ikut

 

Dengar alam yang merintih itu

Menyayatkan luka di wajah-wajah sang raja

di wajahku juga ternyata

Menyeluruh tertatih-tatih

 

Adakah awan bergumam?

Menyisipkan tanda adanya luka

Menyelipkan hati yang tersisa untuk dicaci

Tak  ada mereka ternyata, hanya aku

 

Sepi itu menyapa kesendirianku

Berkarat, membeku, membeku lalu berkarat

Lalu ku rangkaikan satu per satu bait

Terbujur dalam kepekatan jiwa

 

Satu demi satu luka terbuka

Menelanjangi sepi hingga duka jadi abadi

Tak bisa lari

Tak bisa pergi

 

Seperti itukah kekosongan senyuman?

Mata dan hatiku berbincang

Tentang duka dan luka

Sampaikan bahwa aku akan di sini, diam

 

Hingga menjelang pagi

Kupeluk diam

Karena di dalamnya bisa kutemukan tenang

Hingga berang tak lagi menyerang

 

 

Semalam, kertas biru itu tiba-tiba saja jatuh dari buku kuliah yang sudah lama tak kubuka. Kubaca isinya, aku tertawa sendiri.

Tapi, hooiiii………. Aku lupa. Benar-benar lupa. Bait-bait genap dengan tinta hitam memang kukenali sebagai tulisan tanganku. Tapi milik siapakah bait-bait ganjil itu? Milik siapakah tinta berwarna merah muda itu?

Aku lupa. Benar. Tapi, sepertinya aku tahu, kau adalah satu dari jenis Adam bukan? Tulisan tanganmu menjelaskan itu. Kau laki-laki, meski kau pakai tinta merah muda.

Teman, siapa pun kamu, ini kutulis kembali  puisi yang pernah kita buat bersama. Semoga kau tertawa sekeras aku tertawa semalam, ketika kutemukan puisi ini.

Salam.

-S dan temannnya yang entah siapa-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s