kepada seorang teman

…..

22.08 WIB di kampus yang banyak pohon rindangnya.

Teman saya: “Pulang sama siapa, S?”

Saya: “Sendiri.

Teman saya: “Sendiri? Malem-malem gini?”

Saya: “Udah biasa kali gue!” (agak aneh karena gak biasa diperhatiin ).

Teman saya: “Sini gue anter!” (mukanya bilang simpati).

Saya: “Gak usah. Makasih! Gue bisa pulang sendiri.” (makin aneh, kenapa dia perhatian gini?)

Teman saya: “Gak bisa! Kamu kan cewek!”

         -hmm, baek banget sih lo? Tapi…

Saya: “Gak papa, gue kan cewek pemberani!” (gue bilang gitu sambil ngedipin mata -sudah cukup meyakinkankah saya?)

Teman saya: “Bahaya tau cewek pulang malem-malem gini sendirian!” (nadanya sedikit galak).

Saya lihat wajahnya. Serius. Dia tulus dan dia tidak basa-basi. Buset… Susah banget gue percaya sama orang, sama temen sendiri.

Teman saya: (lagi) “Sini naik! Gue anter sampe depan rumah.” (nadanya yang ini tidak galak).

Waktu itu dia sedang di atas motornya, siap-siap juga mau pulang. Tugas kuliah ini bikin kita harus diam di kampus seharian, semalaman.

Saya: “Apa gak ngerepotin?”

Susah banget nerima perhatian orang.

Teman saya: “Alaaaah.. Begini doang..”

Buat kamu mungkin kecil, tapi buat saya ini besar. Kamu bahkan membuat saya berpikir, selama ini saya terlalu mandiri. Saya jarang bergantung pada manusia lain.  Meski saya gak keberatan kalau ada manusia lain yang mau bergantung pada saya.

Saya aneh, kata teman saya yang lain. Dia bilang saya kayak alien.

Teman saya: “Woi! Malah bengong… Ayo naik!”

Entah apa yang mendorong saya, tapi saya mulai bergerak, mendekat, menaiki motornya, dan duduk dibelakangi punggungnya.

Teman saya: “Nah gitu.. Gampang kan?” (nyengir)

Saya: “Thanks, Y!”

Saya juga nyengir. Orang ini…

Dia mungkin gak tahu. Bahwa sebenarnya malam itu yang dia bonceng adalah alien yang akhirnya menyadari bahwa setengah gennya adalah gen manusia. Atau mungkin karena kelamaan hidup di bumi, jadi gen aliennya bermutasi jadi gen manusia juga. eh, emang gen bermutasi?

Pembicaraan kami di atas laju motornya yang cepat, kurang lebih seperti ini:

Teman saya: “Kenapa kamu gak minta anter sama anak-anak cowok kayak anak-anak cewek lainnya?”

Saya: Karena gue bukan cewek-cewek lainnya. Bukan, gue udah lama nyerah nyari perhatian atau bantuan orang. Capek.

Tapi, saya bilang itu hanya dalam hati. Padanya saya jawab: “Gak papa..” yang entah terdengar olehnya atau tidak.

…..

22.22 WIB, di depan rumah saya

Teman saya: (sesaat sebelum pergi) “Manusia itu gak bisa hidup sendiri lagi.”

Ngomong gitu sambil senyum yang maknanya gak bisa gue tangkap.

Saya: “Gue tau. Sayangnya gue alien.” (nyengir kuda)

Dia nyalain mesin motornya. Siap cabut.

Saya: “Thanks Y!”

Teman saya nyengir kuda. Lalu katanya, “Gue juga alien kali.”

…..

Teman saya sudah melaju dengan motornya. Lama. Aneh, saya merasa dia masih di sini bersama saya. Masih menemani, sampai pagi.

*Picture Source: http://myexposition.wordpress.com/2010/06/28/the-values-of-friendship/.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s