“and maybe someday we will meet”

ps-i-love-you“And maybe someday we will meet, and maybe talk and not just speak.” Begitu senandung James Blunt berulang-ulang dalam Same Mistake. Dan entah kenapa playlist saya hanya berisi lagu ini. Oh oke, sepertinya Blunt berhasil menyihir saya untuk patuh mendengar bunyi-bunyian yang dia nyanyikan. Tapi sebentar, kenapa semakin lama saya merasa lagu ini sama sekali tidak cocok menjadi salah satu soundtrack P.S I Love You?

Ya, saya penggemar soundtrack film. Berawal dari kecintaan saya menonton, lagu yang mengiringi beberapa adegan dalam film pun jadi menarik perhatian saya. Bahkan tidak jarang saya memutuskan menonton sebuah film, sehabis saya mendengarkan soundtrack-nya. Ada film-film bagus dengan soundtrack-soundtrack yang juga bagus. Lainnya, bersoundtrack bagus tapi filmnya payah dan sebaliknya.

P.S I Love You, mengisahkan seorang istri yang ditinggal mati suaminya karena sakit kanker -kalau tidak salah. Yang istimewa, sebelum meninggal sang suami meninggalkan sang istri beberapa surat yang bisa dia baca dalam kurun waktu tertentu. Isi surat-suratnya cukup menyentuh hati dan di setiap akhir surat dia selalu menyematkan kalimat, “P.S I Love You.” Para Hawa akan sangat menyukai ini, tidak terkecuali saya.

Love You ‘til the End, yang juga menjadi salah satu soundtrack film ini bisa dikatakan lebih mewakili isi cerita film dibandingkan Same Mistake yang jika diamati liriknya, sama sekali tidak berhawa P.S I Love You. Ya, singkat cerita sepertinya saya jatuh cinta dengan lagu ini, dan berkat film ini pula saya jadi lebih akbrab dengan Blunt. ^^

Ada kalimat dalam lagu ini yang menjadi favorit saya, “and maybe someday we will meet, and maybe talk and not just speak.” Kalimat ini juga yang akhirnya saya beri kehormatan untuk menjadi judul tulisan ini. Ada yang tersirat dalam benak saya ketika mencoba mencerna kalimat ini. Sesuatu seperti mimpi, yang tumbuh perlahan menjadi sesuatu bernama harapan. Ya, ada harap yang saya tangkap. Harapan untuk bertemu dengan seseorang yang kita sayang, meski tidak tahu kapan. Harapan berbicara dengan orang itu dengan lebih hangat dan lebih dekat, tidak hanya sekedar basa yang basi. Tapi berbicara dari hati ke hati.

Jadi begitulah, Blunt menemani saya hampir seharian. Dia memberikan mimpi juga harapan. Semoga menjadi kenyataan.

 

Sumber Gambar: http://www.eynjuls.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s