tuhan dalam secangkir kopi

Sabtu pagi berhujan kuseduh kopi dalam cangkir berwana hitam. Langit kelihatan mendung sekali hari ini. Menatapnya lama-lama, aku seperti ditelan ke dalam kesedihan yang mendalam. Seperti inikah duka dari rasa kesepian? Entah kenapa langit seolah sengaja berbagi nuansa muram. Sepertinya ia sedang tak ingin sendiri. Baik, biar kutemani. Lagipula hari ini aku sedang tak ada kerjaan. Ada yang ingin kau ceritakan barangkali?

Langit tak bergeming. Kuseruput kopiku. Pahit. Ah, aku lupa menambahkan gula. Kuambil dua sendok kecil gula dan tiga sendok kecil creamer lalu menambahkannya ke dalam kopiku. Manis. Pikirku, hidup ini seperti secangkir kopi. Pahit ketika kamu lupa menambahkan gula. Tapi kemudian manis ketika kamu memutuskan menambahkan gula ke dalamnya.

Kalau kamu suka, kamu bisa membiarkannya tetap terasa pahit. Itu semua kan kamu yang memutuskan. Aku hanya perlu kamu tahu satu hal, apa pun yang sedang kamu rasai dalam hidup ini, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian dan tak pernah sendirian. Aku selalu ada di dekatmu. Bahkan lebih dekat dari yang kamu pikirkan.

Langit masih juga muram. Tapi perlahan matahari mulai bersinar. Katanya, “Langit biar kuterangi dan kuselimuti kau dengan cahayaku. Semalaman Tuhan berisik sekali menyuruhku buru-buru muncul di ufuk timur.”

Bahkan dalam secangkir kopi, Tuhan bisa kamu temukan.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan? (Q.S. Ar Rahman)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s