Perempuan itu

Perempuan itu berdiri di balik tembok, tembok yang tinggi sekali. Beberapa tahun lamanya dia bangun. Satu demi satu batu bata ia susun, membentuk deretan persegi yang menjulang tinggi. Bagi banyak orang, tinggi tembok itu sama sekali di luar nalar, tak masuk akal. Tapi dia tak peduli, dia bangun lagi tembok itu jauh lebih tinggi.

Beberapa orang yang berusaha memanjat mengurungkan niat. Tak hanya tinggi, tembok itu licin dan juga dingin.

Suatu sore, cahaya senja menembus masuk memberi kilauan indah pada tembok perempuan itu. Tak hanya membuat tembok itu berkilauan, senja yang juga jatuh di atas tangannya, memberi semacam rasa hangat. Rasa yang asing baginya, tapi menjadi candu.

Perempuan itu ingin sekali menangkap senja. Agar kilauan pada temboknya yang semakin hari semakin tinggi itu menjadi abadi. Ia menatap senja dengan lebih lekat, seperti takut senja tiba-tiba menjadi luput. Ia menatap senja jauh lebih lama. Ada rasa damai yang tak ia kenal.

Harusnya, dia menampik segala sesuatu yang mengusik, seperti orang asing atau senja yang asing. Tetapi senja yang jatuh menembus temboknya sore itu memberi semacam rasa yang utuh. Mengenalkan ia pada makna kata butuh. Ia biarkan dirinya jatuh.

Senja berkilauan semakin indah pada tembok yang tinggi itu. Perempuan itu berlari-lari kecil di atasnya, tertawa-tawa. Senja mengajaknya menari, perempuan itu tertawa-tawa. Tetapi, ada perasaan rawan yang tak bisa ia lawan. Ia tahu senja tiba hanya sementara.

Senja akan pergi tak lama lagi. Ia begerak turun perlahan demi perlahan. Kemilaunya pada tembok perempuan itu susut sedikit demi sedikit. Perempuan itu mengetahui satu hal, senja yang indah ternyata juga menyimpan redup dan haru. Senja seperti membunuh diri demi tibanya malam hari. Meninggalkan nuansa muram pada tembok tinggi perempuan itu, yang perlahan kembali berubah menjadi dingin.

Perempuan itu kembali berdiri di balik tembok. Menyimpan kenangan mengenai senja pada setiap batu bata yang kembali ia susun satu per satu membentuk persegi yang meninggi. Tinggi.. tinggi.. sekali..

Perempuan itu kembali berdiri di balik tembok. Sengaja tak ia ucapkan salam perpisahan itu. Ia tahu senja akan datang lagi esok hari. Ia tahu, ia hanya perlu menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s