The Ninth Symphony, Beethoven

Aku tidak sendiri sore ini. Ada kamu yang dengan tanpa malu menyerobot duduk di hadapanku. Kamu memberikan senyumanmu yang paling manis, memamerkan gigi-gigimu yang putih dan terawat rapi. Rambutmu berantakan, berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan karaktermu yang selalu rapi.

“Apa kabar?”

Sapamu yang datang lebih dulu, membuatku urung mengantongi senyumku. Kuamati kamu diam-diam dari balik tatapku. Setahun lalu, tak pernah terpikir olehku sore seperti ini akan terjadi.

Kamu datang bersama hujan, yang dengan berjalan di bawahnya membuatku merasa aman ketika aku menangis diam-diam. Tak pernah ketahuan. Tetapi kamu memberiku payung, mengajariku betapa manusia perlu tempat untuk berlindung.

Aku jadi tak bisa menangis tanpa ketahuan lagi.

“Kamu tahu The Ninth Symphony-nya Beethoven?”
“Komponis sinting dan aneh, Ludwig van Beethoven itu?”

Kamu tertawa mendengar sebutan tak sopan-ku untuk komposnis jenius di Era Klasik itu.

“Kamu tahu, dia sepenuhnya tuli pada saat menulis The Ninth Symphony?”

Tuli? Sepenuhnya? Apa yang lebih buruk bagi seorang musisi selain kehilangan pendengarannya? Komponis aneh ini sekarang terdengar lebih aneh lagi di telingaku. Tapi sekaligus juga membuatku merasa salut. Bagaimana mungkin seorang yang tuli mampu menciptakan sebuah komposisi musik yang membuat namanya menjadi kewajiban untuk diingat setiap siswa di kelas musik. Orang seperti apa sih Ludwig van Beethoven ini?

Malam harinya aku memutar The Ninth Symphony yang menjadi karya terakhir Beethoven itu dari sekeping CD yang kamu pinjamkan kepadaku. Ini aneh, seumur hidup aku tak pernah mendengar musik klasik dengan sengaja seperti sekarang ini, sekaligus kepo dengan riwayat hidup komponisnya.

Ada beberapa fakta menarik yang kutemukan tentang komponis asal Jerman itu. Orang eksentrik yang rambutnya selalu berantakan ini ternyata orang yang sangat apik, terencana dan juga teliti. Hei, kenapa bayanganmu yang tiba-tiba muncul di benakku?

Beethoven adalah seorang yang disiplin dan pekerja keras. Dia selalu bangun pagi untuk kemudian duduk dan menulis hingga tiba waktu untuk makan siang. Sesekali dia pergi mencari udara segar, lengkap dengan buku catatan di tangan, antisipasi bagi inspirasi yang biasa datang tanpa diduga-duga.

Seperti kamu yang tanpa diduga-duga menjadi penting dalam lingkaran hidupku sekarang.

Beethoven yang menjadi sepenuhnya tuli di pertengahan karirnya, secara mengesankan justru semakin menanjaki tangga kesuksesan. Meski ia mulai menarik diri dari pergaulan masyarakat dan dianggap aneh serta sulit dipahami, ia justru semakin produktif dalam berkarya.

Mungkin ini yang dimaksud Abraham Maslow ketika menulis, “Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya – mereka harus melakukannya agar mencapai kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka inginkan.”

Aku mengerti sekarang kenapa kamu selalu bertanya aku mau apa. Kenapa diam-diam kamu mencermati apa yang memang benar-benar aku inginkan. Apa yang memang benar-benar penting untuk aku perjuangkan. Dan dengan diam-diam memastikan bahwa aku tidak merasa sendirian.

Jadi, kamu mau apa S?

Pesan singkatmu yang kuterima sebelum tidur seolah bersekutu dengan The Ninth Symphony-nya Beethoven, yang lalu berputar-putar terus di kepalaku.

Bukan suatu kebetulan The Ninth Symphony ini akhirnya sampai di telingaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s