Jangan Lari

Kuhabiskan sebagian besar waktuku hari ini dengan menelusuri rak demi rak buku di perpustakaan. Aku mulai dari rak yang paling ujung. Kugeser kakiku selangkah demi selangkah ke samping. Mataku menyapu buku-buku yang berderet rapi di dalamnya. Ada beberapa judul yang sudah pernah habis kubaca, ada juga yang perlu kugenapi kali pertamanya.

Bagaimana caramu menghabiskan buku yang kamu baca? Apa kamu melengkapi bacaanmu dengan secangkir kopi?

Di ujung ruangan dekat jendela, ada sebuah meja yang cukup besar untuk membaca, lengkap dengan dua buah kursi yang disimpan saling berhadapan satu sama lain. Kutarik salah satu kursi yang kosong lalu duduk di atasnya.

Jendela yang lebar menyuguhkan pemandangan yang cukup menarik untukku. Di lapangan basket di ujung sana, kamu sibuk menggiring bola. Di tanganmu, bola berdiameter kurang lebih 40 cm itu memantul dengan teratur, seolah tahu ke mana arah yang dia tuju. Ketika akhirnya bola masuk ke dalam keranjang lawan, kamu dan orang-orang di sekitarmu bersorak-sorai senang. Kamu tertawa, melompat, bahkan sesekali berteriak.

Aku di sini sampai membayangkan suara riuh di luar sana. Semangat itu ternyata membakar sumbu semangat yang lain. Karena ketika kamu menarik otot-otot di wajahmu untuk tersenyum, otot-otot di wajah yang lain ikut tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Ada semacam energi di luar sana, yang entah berubah seperti apa tetapi berpindah hingga sampai di ruangan ini. Melahirkan semacam inspirasi. Mendaratkan kata demi kata pada buku catatan yang semula kosong akhirnya kini mulai terisi.

Kamu mungkin sama sekali tak tahu, di ruangan yang dipenuhi buku ini ada seseorang yang sedang memperhatikanmu. Seseorang yang menuliskanmu ke dalam cerita-ceritanya, yang diam-diam menjadikanmu tokoh utama dalam setiap cerita yang dia buat.

Kamu mungkin merasa tak cukup istimewa untuk menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita. Hanya karena kamu tak melihat apa yang aku lihat.

Bagaimana hayo, jika ada seseorang yang mengatakan kepadamu bahwa baginya kamu begitu istimewa?

Ketika nanti kamu menelusuri rak demi rak buku di ruangan ini, kamu mungkin akan menemukan satu atau dua cerita di mana kamu adalah pemeran utamanya. Ketika nanti kamu masuk ke ruangan ini, jangan lupa menarik satu kursi yang masih kosong yang ada di dekat jendela. Dari jendela itu kamu akan melihat apa yang selama ini aku lihat.

Ketika nanti kamu juga menemukan ada seseorang yang duduk di hadapanmu, jangan lari.

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Lari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s