apa kabar?

Enam puluh menit tersisa untuk sampai pada angka yang berbeda. Menuju hari yang baru lagi. Akan ada kamu atau tidak, aku tak mau tahu. Enam puluh menit berkurang tiga, angka yang menunggu tetap sama. Aku menuju ke situ, dengan atau tanpa kamu.

Sudah kau tarikkah selimutmu? Atau sekedar kau tutupi kedua kakimu dari angin kotamu yang dingin? Bagaimana kabarmu, aku sungguh tak ingin tahu. Tapi anehnya tetap juga kusampaikan pertanyaan itu.

Hari ini Indonesia genap tujuh puluh. Dan merdeka kata mereka adalah lepas dari segala bentuk penjajahan. Merdeka kata mereka adalah berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada siapa pun. Merdeka adalah lepas dari segala macam kekangan dan aturan.

Senang sekali jika setiap jiwa bisa merasakan kemerdekaan. Apa coba yang lebih membahagiakan daripada lepas dari ketergantungan pada apapun atau sesiapa pun?

Tetapi bagi manusia, saling bergantung satu sama lain bukankah merupakan kebutuhan? Bukankah menggantungkan diri pada Dzat yang Maha Tinggi sudah merupakan fitrah?

Kemerdekan mutlak dimiliki setiap jiwa manusia. Tetapi sebagai manusia, kita tak bisa hidup dengan lepas dari aturan Tuhan. Atau hidup dengan menuruti keegoaan untuk memilih tidak peduli.

Jadi, kembali aku bertanya apa kabarmu hari ini? Sudahkah kau minum susu dan tidur yang lelap?

Ah, aku mungkin hanya takut. Takut menjadi luka, ketika ternyata nanti kau memilih untuk tidak peduli. Ah, kenapa aku tak memilih untuk merdeka saja? Merdeka dari rasa rindu karena kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s