Merah itu Berhenti

Sederet kalimat berputar ulang di kepala; merah itu berhenti. Logika sederhana, sesederhana ketika kamu melihat lampu merah di persimpangan jalan. Kamu harus berhenti atau mati.

Ada jarak yang harus dijaga. Juga waktu untuk kembali melaju.

Jangan menoleh, jalan di depan lebih memerlukan perhatian. Sesekali saja ketika rindu mungkin menggelayutimu, bolehlah pandangi ia di kejauhan. Sebentar saja. Kemudian lupakan.

Perjalanan tampaknya masih jauh. Tak usahlah ruangi waktu dengan mengeluh. Berusaha sebaik-baiknya saja. Jangan berhenti. Allah tahu. Ada kejutan manis yang menunggu di ujung jalan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s