Emma

image

“Lebih baik kita tidak punya kearifan, daripada memilikinya, tetapi melaksanakannya secara tidak benar.”
– Jane Austen

Tiga dari lima. Well, saya sebenarnya ingin kasih empat bintang, tapi beberapa bab di awal cerita memberi keraguan akan bagaimana novel ini mengesankan saya pada akhirnya.

Saya harus mengingatkan diri berkali-kali bahwa ini Jane Austen, bukan Tolkien. Hehehe…

Membaca karya-karya Jane Austen selalu berhasil membawa saya larut ke dalam ruang dan waktu yang berbeda; Inggris abad 19.

Jika Anda tidak terlalu tertarik dengan roman klasik, tetapi ingin mengenal Jane Austen melalui karyanya, saya sarankan untuk tidak menjadikan Emma objek bacaan pertama. Karena entah bagaimana saya yakin, Anda akan berprasangka buruk terhadap Austen ketika membaca beberapa bab awal novel ini. Hehe..

Membaca beberapa bab pertama Emma dengan merujuk pada sinopsis di belakang bukunya – cantik, pintar, kaya, dan lajang – saya benar-benar dibuat geram! (Oh maafkan saya Jane, tapi itulah yang saya rasakan saat membaca).

Menurut saya, Emma itu sombong, bodoh, dan egois. Dia pengamat yang buruk dan sangat tidak peka. Seratus empat puluh halaman dan dia berhasil membuat saya mengatainya ‘idjits’. Saya mulai merajuk, mengapa oh mengapa novel ini diberi judul ‘Emma’?

Tetapi dengan segala kekesalan yang saya rasakan terhadap tokoh utama cerita ini, saya ternyata masih bisa menikmati membaca Emma, dan tanpa niat mengakhirinya di tengah-tengah begitu saja. Jane Austen berhasil dengan baik sekali dalam menggambarkan sifat-sifat manusia.

Tentu saja karakter Emma tidak melulu tidak baik di mata saya. Dia manis, terbuka terhadap kritik, tulus dan santun. Kesalahan saya adalah saya berharap terlalu tinggi terhadap karakter Emma yang akan luhur sejak awal cerita.

Ketika pada akhirnya Emma menunjukan bahwa dirinya bisa berubah dan mau berubah, saya mulai menyukai tokoh ini dan semakin menyukainya. Saya akhirnya paham alasan Jane menjuduli novel ini Emma.

Beberapa tokoh dalam cerita ini, benar-benar menyebalkan dan sampai tahap tertentu berhasil membuat saya kesal. Tapi entah bagaimana Jane seolah meramunya dengan pemakluman dan sahaja. Sehingga saya merasa rugi jika terus merasa kesal karena menghabiskan energi hanya demi mereka.

Jane Austen dengan cerdas memikat hati pembaca wanita dengan menggambarkan tokoh utama pria dalam novel-novelnya sebagai pria penuh kasih dan sangat mencintai serta menghormati kekasihnya. Meski tetap digambarkan dengan tidak lepas dari kekurangan, tokoh-tokoh utama prianya menjadi sangat menggemaskan. Hahaha…

Well, saya sebenarnya ingin kasih empat bintang karena Mr. Knightley. Tapi sudah terlanjur mengulas alasan kenapa saya hanya memberi tiga bintang. Saya mau konsisten. Wkwkwk…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s