Queen and Her Unicorn

Anak perempuan itu mengerjap ketika bait terakhir lagu yang tak ia tahu apa judulnya itu berhenti. Tangan sang guru berada tepat di atas tangannya. Itu artinya ia akan berubah menjadi seekor kucing dan teman-temannya akan berubah menjadi tikus. Lalu, ia akan harus mengejar dan menangkap tikus-tikus itu.

Oh aku sudah bukan manusia lagi sekarang. Aku ini seekor kucing, pikir anak itu. Aku akan menangkap tikus-tikus itu. Tapi bagaimana ya, aku tidak mempunyai ekor!

Ah biarlah, teman-temanku juga tidak berekor. Bukan bukan, mereka bukan teman-temanku lagi! Mereka adalah tikus-tikus yang harus ditangkap. Bagaimana kok tikus tidak berekor! Hahaha.. Iya makanya harus ditangkap. Anak itu tersenyum geli karena pikirannya sendiri.

***

Tapi oh menangkap tikus itu ternyata tidaklah mudah. Mereka memiliki nama yang berbeda dari yang mereka sebutkan sewaktu pertama kali dulu bertemu. Rey misalnya, harus dipanggil Cucumber, ketika akan ditangkap. Sedangkan Hiro harus dipanggil Ice Cube! Oh belum lagi Hans, Layla, dan El! Masing-masing memiliki nama yang berbeda. Anak perempuan itu mengerdip-kerdipkan matanya, tanda ia sedang berpikir – hal yang rumit juga ternyata.

Ketika teman-temannya memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda, ia bersungguh-sungguh menghapalnya. Rey – Cucumber, Hiro – Ice Cube, Hans – Humans, Layla – Huge, dan El – Unicorn.

Anak perempuan itu tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya ketika orang terakhir memperkenalkan dirinya sebagai Unicorn.

“Yes yes.. of course you’re unicorn.” Ujarnya girang. Meski ia sendiri tak mengerti mengapa harus merasa seperti itu.

***

Ia tak penah mengingat dengan jelas mulai sejak kapan. Ia hanya mengetahui satu hal yaitu bahwa takdir selalu kebetulan membawa ia dan El berada pada tempat dan waktu yang sama.

Kebetulan bersekolah di Taman Kanak-kanak yang sama, kebetulan melanjutkan ke Sekolah Dasar yang sama, kebetulan les di tempat yang sama, bahkan tinggal di komplek rumah yang juga sama. Dan ya, ia sebut ini takdir.

Bahkan sekarang ia merasa takdirlah yang menjadikan dia seekor kucing dan menjadikan El seekor tikus. Kucing dan tikus yang ditakdirkan berlarian tanpa ekor. Ia kembali kegirangan meski tetap tak mengerti mengapa harus merasa seperti itu.

***

Ia berlari mengejar tikus-tikus tanpa ekor di sekelilingnya. Tetapi hanya satu ekor tikus saja yang menarik perhatiannya. Tikus yang menyamar menjadi unicorn. Eh, atau unicorn yang menyamar menjadi tikus? Ah itu seharusnya tak menjadi soal kan?

Ia berlari dengan hati yang penuh rasa senang.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you unicorn.”

Ia berlari. Melewati Huge yang berada kurang dari satu meter di sampingnya. Ia berlari. Melewati Ice Cube yang terpaut jarak dua kali dua puluh lima sentimeter di sisinya. Ia berlari. Melewati Humans, melewati Cucumber, melewati semua yang bisa ia lewati.

Hanya ada Unicorn di kepalanya. Hanya Unicorn yang diinginkannya.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn..”

Anak perempuan itu menjadi begitu bahagia. Ia berlarian mengejar takdirnya atau yang disangkanya sebagai takdirnya. Dan meski hanya sebuah sangkaan toh ia tak peduli. Ia hanya tahu bahwa ia harus jujur mengikuti apa kata hatinya.

Queen, begitu ia biasa disapa. Ia telah memilih raja di hatinya dan berlaku jujur atas pilihannya. Itu adalah kemenangan yang besar. Ia tidak terlalu peduli jika semua yang dia kira, hanya serupa sangka, ia hanya merasa bahagia.

Sebelum akhirnya nanti lupa, harusnya semua yang ia alami hari ini diingat dan dicatat baik-baik. Jika ingin bahagia sayang, kata Bunda suatu hari, ikuti kata hati dan berlakulah sesuai apa yang hatimu katakan. Meski akan tidak selalu mudah, berusahalah. Jangan menyerah.

***

Tetapi, menjadi dewasa ternyata membuat manusia lupa bagaimana nikmatnya mengikuti kata hati. Betapa berharganya sikap penerimaan terhadap diri sendiri. Anak kecil tidak pernah menyangkal apa-apa yang dirasakannya. Apa yang dipikirkan begitu pula biasanya yang dilakukan. Ia mengikuti kata hatinya – yang luar biasanya ternyata sejalan dengan pikirannya.

Queen hari ini dan Queen lima belas tahun yang lalu, bukankah masih orang yang sama? Seorang perempuan -jika tak sudi lagi dikatai seorang anak- yang selalu mengikuti kata hati. Seorang perempuan yang berlari mengejar takdir yang diciptakannya sendiri. Seorang perempuan yang percaya bahwa takdir bukanlah takdir jika belum ada upaya yang penuh untuk sampai pada apa yang ingin dicapai.

Queen adalah perempuan pemberani. Tapi di mana berani itu bersembunyi kali ini?

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn..”

“Kamu kenapa sih ngikutin saya terus, Queen?” Tanya El suatu hari.

“Saya hanya ingin tahu apakah kamu juga suka pada saya, El.” Jawabnya sambil tersenyum. Lebar sekali.

Bayangan masa kecilnya dulu mengelibat di benaknya. Perempuan itu tersenyum. Aku Queen, perempuan yang selalu mengikuti kata hati. Queen, yang berlari mengejar takdirnya sendiri. Aku Queen, si pemberani.

Ia seolah mendengar debar jantungnya berbunyi, kencang sekali. Untuk hari ini ia rela menghabiskan waktunya lebih lama di depan cermin, mematutkan diri. Untuk hari ini ia bahkan rela mengenakan rok, yang seumur hidupnya begitu ia hindari. Untuk hari ini, hanya untuk hari ini.

Tapi kenapa rasa cemas seperti mengolok-ngoloknya sedari tadi? Kurang dari satu jam ke depan, ia akan bisa menemukan apa yang selama ini ia cari. Bagaimana bisa dia malah merasa takut? Sepertinya semua akan jauh lebih mudah jika saja dia bisa berlari ke arah yang berlawanan.

Tapi, akankah dia bahagia?

***

Di sebuah selasar, Queen mematung. Berdiri begitu anggun di depan karya Sunaryo, salah satu seniman kawakan yang cukup terkenal di Bandung. Ia sendiri sesungguhnya wujud dari karya itu sendiri. Sepasang kaki yang panjang dan lenjang, juga pinggangnya yang ramping cukup mampu membuat iri banyak wanita di dunia. Matanya yang berbinar selalu tampak cantik meski ia hanya mengenakan riasan sederhana, seulas bedak di pipi dan segurat tipis lipstik di bibir. Rambutnya yang halus dan panjang dibiarkan jatuh terurai beberapa senti di bawah bahu.

Ia tetap berdiri mematung. Sebuah judul menggangu isi kepalanya, Between Heaven and Earth (Yin and Yang). Selama ini, ia merasa hubungannya dengan El, bagaikan langit dan bumi. Bisa melihat satu sama lain, tapi tak kunjung bertemu. Ia tiba-tiba merasa menjadi manusia paling congkak karena ingin menciptakan takdirnya sendiri.

Setelah sekian lama, akankah dia pergi melarikan diri? Begitu saja? Bukankah bodoh jika dia melewatkan kesempatan yang tak mungkin datang dua kali?

“Stop being stupid Queen!” Umpatnya dalam hati.

Butuh udara segar, akhirnya ia beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi. Secangkir kopi mungkin akan bisa membantunya bersikap lebih tenang. Sebuah pesan masuk, ia membuka ponselnya, dari El.

“I’ll be late. Sorry..”

Selalu begitu. El tidak pernah menunjukkan perhatian, keseriusan atau tanda apa pun untuk dia meyakini bahwa hatinya tidak salah memilih. Ia mulai merasa ragu, mungkin memang El tidak pernah sekalipun ditakdirkan Tuhan untuknya.

Padahal ketika menerima pesan El tadi pagi ia begitu kegirangan. Ia bilang bahwa ini hari yang istimewa, bahwa ada sebuah kejutan menantinya. Mungkinkah El ingin membayar rasa bersalah karena melupakan hari ulang tahun Queen dua minggu lalu? Ah tapi memang dia selalu lupa bukan?

Sore itu, senja menampakkan warnanya yang keemasan. Di penghujung hari, kemilau senja selalu memukau banyak mata yang memandang. Waktu yang tepat untuk tiba-tiba merasa gembira dan berduka pada waktu bersamaan. Perempuan itu kesepian.

***

Lelaki itu datang tepat pada saat rasa sepi menyentuh puncaknya yang tertinggi. Wajahnya pucat seperti kain kanvas tak berisi. Setengah berlari ia menuju kekasih hati yang menunggunya sedari tadi.

“Hei, I’m sorry for coming late..”

Perempuan itu menggeleng. Berusaha tak tampak sebagaimana ia terlihat di mata lelakinya saat ini.

“It’s okay El. I’m not waiting that long anyway.. and I’m not waiting
any longer.”

“What do you mean?”


“I’ve something to tell.”

“Me too.”

“Let me say it first.” Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam. Lalu lanjutnya, “I think it’s time to say goodbye. I’m sorry for being selfish all this time.”

Lelaki itu mengerutkan kening. Tak mengerti.

“Wait, I don’t get it.”

“El, I’m not finish yet.” Potong Queen. “All this time, I’m too pride of myself and I’ve been acting out that I know you and even your heart, but I don’t, not even a bit.”

“What are you talking about?”

“I’m really sorry El.”

“Sorry is not accepted. You girl, you’ve already had my heart, but then you want to leave just like that! Yes, you’re right you’re a selfish brat!”

Queen seperti tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ia seperti sedang bermimpi. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetapi ketika keheningan melanda meja di sudut ruangan sebelah jendela itu, seseorang datang menghampiri keduanya.

“Oh, jadi ini yang mau kamu kenalin sama mama, El?” Sebuah suara tepat di belakang Queen membuatnya terperanjat. Queen menoleh ke belakang, dilihatnya seorang wanita yang kecantikannya tak lekang oleh waktu, berjalan semakin mendekati meja Queen dan El. Queen beranjak dari kursinya segera setelah sebelumnya menatap El penuh tanda tanya. Ia mengulurkan tangannya.

Surprise!” Ujar El, lirih.

“Queen, tante.”

“Queen? Such a lovely name! Saya Ellisa, mamanya El. Dia sering banget cerita soal kamu.”

What did she just say once again? Queen merasa dia benar-benar harus memeriksakan pendengarannya ke dokter kali ini. Dan ketika menatap El, lelaki itu hanya duduk sambil menahan tawa.

“Gimana kabar mamamu Qiy?”

“Baik tante.”

“Waktu kecil kamu dipanggil Qiy kan?”

“Eh? Iya. Betul tante.”

“Kamu jadi cantik banget ya sekarang..”

“Ah tante bisa aja. Masih lebih cantik tante, saya kalah jauuhh. Hehehe..”

“Hmm, pinter ngomong juga ya. Coba dulu tante gak pindah ya, udah besanan sama mamamu dari kapan tau kali kita. Hahaha..”

Di saat yang sama, mata Queen dan El bertemu. Keduanya tak bisa menyembunyikan wajah mereka yang merah padam. Entah bagaimana mereka merasa baru pertama kali bertemu. Mereka sama-sama malu.

Dalam hati Queen berujar, ‘Thanks God, I’m wearing a skirt!’

***

Suatu pagi di akhir bulan Februari, Queen kembali berdiri di sebuah selasar dan menatap sebuah karya yang judulnya dulu sempat mengusik pikirannya. Bedanya kali ini ia tidak berdiri mematung sendiri saja. Ada El di sebelahnya.

“Jadi ini yang sempat bikin kamu galau tempo hari? Like seriously this one?” El tidak bisa tidak tertawa.

“Kamu nih ya! You’ve promised!

“Ahahaha..” El tetap tidak bisa tidak tertawa. Queen manyun – kecewa.

Tetapi tak lama. Sesuatu menyentuh lembut kepalanya – tangan El.

“Silly girl! Kamu tahu Yin dan Yang itu berarti jalan?”

Eh? Queen mencari kedua mata El. Bertanya.

“Yes Queen! Way – Jalan. To help two unicorns find their way home.”

Queen menyunggingkan senyumnya, lebar.

“Jadi jawabannya iya nih?”

“Bisa jadi.”

“Hahahaha..”

Ketika itu, sinar matahari tepat jatuh menembus jendela. Di kepala Queen dan El, bayangan masa kecil melintas.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn.”

Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan berlarian. Senang.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s