Narcissus

seperti juga aku: namamu siapa, bukan? pandangmu hening di permukaan      telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau      padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan      selembar daun dan jatuh di telaga: pandangmu      berpendar, bukan? cemaskah aku kalau nanti air hening      kembali? cemaskah aku […]

dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata dan menatap wajahmu. aku temukan kata-kata yang siap tumbuh lagi. tapi menulis puisi ialah melupakan dan meluapkan ingatan. sejak itu hari selalu terbaca sebagai buku yang seluruh berisi catatan penutup yang panjang. kadang-kadang datang seorang menghibur: tidak ada permukaan indah tanpa kesedihan di dasarnya. dan aku mendambakan sebaliknya. -M. Aan Mansyur