Wangi sampo dan menu sarapan pagi

Puisimu tiba pada sarapan pagi yang menyisakan sunyi bunyi piring dan gelas kotor yang minta dicuci Sapardi, kamu bilang menulis puisi tentang api, tentang kayu, dan tentang menjadi abu tentang awan dan hujan dan ketiadaan* Puisimu sayang, melulu candu pada tidur malam malam yang sulit terpejam Beritakan kepadaku Wangi sampo yang menempel di rambutmu Pagi […]

Jika Sendiri

Di atas aspal yang ditimpa terik matahari, aku berjalan tanpa suara. Tanpa berpikir apa-apa. Kepala ini bandara. Orang banyak berlalu lalang. Tetapi tidak ada yang tinggal. Seseorang, duduk di ujung kursi panjang. Seseorang yang lain, di ujung lainnya. Berseberangan. Itu adalah kau Itu adalah aku Selamanya kita, berada pada jalan dengan tepi yang berbeda. Tak […]

Narcissus

seperti juga aku: namamu siapa, bukan? pandangmu hening di permukaan      telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau      padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan      selembar daun dan jatuh di telaga: pandangmu      berpendar, bukan? cemaskah aku kalau nanti air hening      kembali? cemaskah aku […]

dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata dan menatap wajahmu. aku temukan kata-kata yang siap tumbuh lagi. tapi menulis puisi ialah melupakan dan meluapkan ingatan. sejak itu hari selalu terbaca sebagai buku yang seluruh berisi catatan penutup yang panjang. kadang-kadang datang seorang menghibur: tidak ada permukaan indah tanpa kesedihan di dasarnya. dan aku mendambakan sebaliknya. -M. Aan Mansyur

Buku Harian, 28 Oktober

Hujan mengubah jalanan musim kemarau  semacam cermin yang mengganti namaku jadi Biru Kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama dengan teduh. Jalan-jalan sempit. […]