dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata dan menatap wajahmu. aku temukan kata-kata yang siap tumbuh lagi. tapi menulis puisi ialah melupakan dan meluapkan ingatan. sejak itu hari selalu terbaca sebagai buku yang seluruh berisi catatan penutup yang panjang. kadang-kadang datang seorang menghibur: tidak ada permukaan indah tanpa kesedihan di dasarnya. dan aku mendambakan sebaliknya. -M. Aan Mansyur

Buku Harian, 28 Oktober

Hujan mengubah jalanan musim kemarau  semacam cermin yang mengganti namaku jadi Biru Kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama dengan teduh. Jalan-jalan sempit. […]

Cara Mengingatmu

Kamu selalu mengernyit Setiap kali menyengaja aku lupa Kutambahi gula pada setiap kopimu yang pahit Tapi kamu minum juga Aku tidak pernah percaya bahwa Rasa pahit mampu membuatmu Berdiri lebih kokoh ketika semua hal di sekitarmu Menyuruhmu roboh Dan kamu tidak pernah percaya bahwa Rasa manis mampu membuatmu tertawa Bahkan di saat semua hal di […]

Kehilangan Juli

Juli datang. Mengetuk pintu di depan. Tak lama waktu yang dia perlu. Juli masuk. Mencari tempat duduk. Pada sebuah ruang, Juli berputar. Dinding. Pintu. Dan jendela.  Sepertinya aku tidak ada di mana-mana. Masih berkutat seputar Juni. Juga sibuk mencoba begitu banyak cara. Bagaimana melewati Juli? Mungkin melompat ke Agustus. Atau tidur hingga dibangunkan September. Aku […]

Pulang

Aku rindu tapi tahu takan sampai aku padamu Berputar terlalu lama Nyatanya membuatku lupa Kamu pernah ada di suatu tempat istimewa yang tidak bisa sesiapapun temukan di mana-mana Bagaimana bisa kukembalikan Selebar peta yang kau berikan Kamu bilang Simpan Kelak jika lupa Selalu bisa Kamu temukan jalanmu pulang

Menenangkan Rindu

  Warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus. Langit paham hal-hal semacam itu. Kata-katamu bicara terlalu banyak tapi tidak pernah cukup. Langit selalu cukup dengan cuaca dan pertanyaan- pertanyan. –M. Aan Mansyur

Membawa Serta Lupa

Aku butuh kertas dan pena dan menulismu segera sebelum lupa Bahwa aku akan lupa Dengan segera Segala cerita menyangkut dirimu dulu Ah, di mana kenangan tadi kusimpan? Jangan-jangan justru lupa kubawa serta Eh, aku harus lekas Kuseret kakiku tegas Hei, kenapa mesti tergesa? Hatiku bertanya Benar juga Langkahku melambat Tapi justru melupakanmu Cepat PS: untuk […]