Sebuah Perayaan

Aku tahu bahwa yang ingin kamu sampaikan lebih dari sekedar selamat. Bahwa kita mendamba serupa pesta. Perayaan. Merayakan kemenangan atau barangkali kekalahan. Di kebun belakang, tepat sebelum ribuan terompet dibunyikan. Atau kembang-kembang api dinyalakan.

“Siapa lagi yang kau undang?”
“Tak ada. Hanya kau.”

Kamu mengangkat ujung kanan dan kiri bibirmu, menyuguhkan senyum terhangat di dunia. -Rupa candu dalam rinduku.

“Hei, mau kau apakan balon-balon itu?” Tanyamu sambil menunjuk beberapa balon gas yang kusimpan di salah satu sudut ruangan.
“Mau kusuruh terbang.”
“Malam-malam gini? Biar apa?”
“Biar mereka nyari cahaya.”
“Memang mau titip pesan apa buat cahaya?”
“Hehehe.. rahasia.”

***

Sudah kubilang belum bahwa sejauh ini, hanya kamu yang mengerti. Semua yang terang-terangan kunyatakan. Semua yang diam-diam kusembunyikan. Hanya kamu.

Kupikir lucu, ketika kamu menemukan seseorang yang memahami kamu begitu saja. Ketika kamu bahkan tidak sedikit pun perlu berusaha. Seolah Tuhan mengirimkan hadiah istimewa untukmu. Hanya untukmu.

“Untukku?”

Sebuah kotak berwarna biru tepat di samping di mana kamu duduk saat ini, terikat pita dengan warna sama, hanya lebih muda. Aku mengarahkan jari telunjukku ke sana.

“Percaya diri sekali.” Ujarmu. Ditambah senyum jahil.

Menyebalkan! Meski tahu kamu hanya ingin menggodaku, tetapi rasanya seperti dikhianati perasaan sendiri. Tiba-tiba aku merasa butuh semacam pengalihan, jadilah aku beranjak menuju dapur. Membuka lemari es untuk mencari apa saja yang bisa kumakan atau kuminum.

Tapi ternyata aku justru melakukan kesalahan lain. Sepotong croissant gagal pangganglah yang kulihat kali pertama pintu kulkas kubuka. Sial! Harga diriku jadi terluka dua kali rasanya.

Cepat-cepat kuambil sebotol minuman yang paling dekat dari jangkauan. Kubuka dan kuteguk, ternyata soda.

“Sial!”

Aku mengumpat. Dan kali ini tidak hanya dalam hati.

Dari ruang tempatmu duduk, samar-samar terdengar suara benda terjatuh di atas lantai. Aku seperti melihatmu terlonjak di atas sofa dan menjatuhkan kotak biru yang ada di sampingmu tadi. Dan sesuatu yang kau ujarkan membuatku tersenyum.

Bagaimana kamu selalu bisa membuatku tak merasa sendirian? Bagaimana lalu kamu menjelma teman pada setiap keadaan? Membersamai suka, menemani duka. Aku pikir Tuhan terlalu baik karena Dia mengirimkanmu padaku.

“Teeeeettttttt… teeeeettttttt”

Bunyi terompet mulai terdengar lagi. Seperti tidak rela dikalahkan bunyi kembang api yang mulai dinyalakan setelah adzan maghrib tadi berkumandang. Kalau terompet bisa bicara, mereka mungkin akan bilang seperti ini, “Hei kembang api, kalian kan sudah menyala, terang pula, kenapa ikut-ikutan berbunyi segala? Biarkan kami sajalah yang berbunyi.”

Ketika aku memikirkan jawaban apa kira-kira yang akan kembang api sampaikan, aku menyadari kamu tengah berdiri di depan pintu kulkas, di sampingku. Hei sejak kapan dia..

“Soda.. my mistake. Aku yang menyimpannya di situ tadi. Terry yang titip. Rencananya akan aku bawa kalau pulang nanti.”

“Hmm.. jadi kamu udah tahu dari tadi?”

“Hmm.. croissant itu maksudmu?”

Sial! Aku ingin mengumpat lagi rasanya.

“Hehe.. udah.”

Dan senyummu jauh lebih lebar.

Aaaahhhhh…

***

Malam mencapai puncaknya ketika ratusan kembang api membakar diri sendiri dan ratusan terompet bersautan hampir seperti bernyanyi, tapi nadanya sumbang sama sekali. Tetapi toh tak ada yang peduli. Para manusia hanya ingin sebuah perayaan. Dan hari ini merupakan satu dari banyak perayaan yang biasa mereka lakukan.

Aku dan kamu hanya dua manusia yang memanfaatkan kesempatan yang jarang datang. Liburan.

“Aku mendengarmu mengumpat tadi.”

“Aku tidak ingin membiarkanmu mengumpat sendirian.”

“Hehehe..”

Kita menatap langit.

“Croissant buatanku sama sekali tidak enak.”

“Memang. Tapi aku tetap senang memakannya.”

“Hehehe..”

Kembang-kembang api berpendaran.

“Boleh kupakaikan Feddy jaket darimu?”

“Enak saja. Memangnya aku apa, memakai jaket yang sama dengan boneka beruang?”

“Hahahaha…”

Sahutan terompet semakin berkurang.

“Lalu kapan balon-balon itu akan diterbangkan?”

“Nanti selepas sholat subuh.”

“Hmm.. biar gak terlalu lama ketemu cahaya?”

“Hehehehe..”

Di kebun belakang, sepasang manusia, laki-laki dan perempuan duduk bersebelahan. Mereka mengenakan jaket yang sama. Warnanya yang putih tampak mencolok di kegelapan malam. Di sekitarnya ada beberapa piring berisi makanan yang tak penuh lagi. Pada sebuah piring yang semula penuh berisi croissant hanya tersisa remahan.

Angin yang bertiup semakin lama semakin kencang. Seperti sengaja menyambut balon-balon gas yang baru lepas dari tangan dua manusia yang kedinginan. Balon-balon itu dihantarkan dengan senyuman paling lebar yang pernah mereka lihat sepanjang menanti di sudut ruangan tadi. Kalau kedua manusia itu bisa mendengar, sesungguhnya balon-balon itu berkata, “Kami akan terbang setinggi-tingginya. Bukan untuk menyampaikan pesan. Pesanmu untuk Tuhan sudah sampai duluan. Kami terbang mewakili kemungkinan terkabulnya harapan dan keinginan kalian. Wahai insan Tuhan, cepat masuk ke ruangan sebelum flu menyerang kalian.”

“Ra, kamu dengar sesuatu?”

“Dengar apa?”

Balon-balon terbang semakin tinggi.

“Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.”

Kening mereka berkerut. Angin semakin kencang bertiup. Balon-balon terbang semakin lama semakin tinggi. Semakin lama semakin tidak terlihat sama sekali. Seperti ditelan langit malam yang sebentar lagi berubah menjadi pagi.

Di bawah langit, di atas rerumputan, dua bahu saling bertemu. Dua pasang mata menatap langit yang dipenuhi bintang yang baru saja dikirimi pesan lewat balon-balon yang terbang. Kedua pasang mata itu akhirnya saling mencari. Ada senyum yang lebar di bibir keduanya. Juga bersin. Dan berisik.

“Hahahaha.. ayo masuk.” Ujar keduanya bersamaan.

-End-

Queen and Her Unicorn

Anak perempuan itu mengerjap ketika bait terakhir lagu yang tak ia tahu apa judulnya itu berhenti. Tangan sang guru berada tepat di atas tangannya. Itu artinya ia akan berubah menjadi seekor kucing dan teman-temannya akan berubah menjadi tikus. Lalu, ia akan harus mengejar dan menangkap tikus-tikus itu.

Oh aku sudah bukan manusia lagi sekarang. Aku ini seekor kucing, pikir anak itu. Aku akan menangkap tikus-tikus itu. Tapi bagaimana ya, aku tidak mempunyai ekor!

Ah biarlah, teman-temanku juga tidak berekor. Bukan bukan, mereka bukan teman-temanku lagi! Mereka adalah tikus-tikus yang harus ditangkap. Bagaimana kok tikus tidak berekor! Hahaha.. Iya makanya harus ditangkap. Anak itu tersenyum geli karena pikirannya sendiri.

***

Tapi oh menangkap tikus itu ternyata tidaklah mudah. Mereka memiliki nama yang berbeda dari yang mereka sebutkan sewaktu pertama kali dulu bertemu. Rey misalnya, harus dipanggil Cucumber, ketika akan ditangkap. Sedangkan Hiro harus dipanggil Ice Cube! Oh belum lagi Hans, Layla, dan El! Masing-masing memiliki nama yang berbeda. Anak perempuan itu mengerdip-kerdipkan matanya, tanda ia sedang berpikir – hal yang rumit juga ternyata.

Ketika teman-temannya memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda, ia bersungguh-sungguh menghapalnya. Rey – Cucumber, Hiro – Ice Cube, Hans – Humans, Layla – Huge, dan El – Unicorn.

Anak perempuan itu tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya ketika orang terakhir memperkenalkan dirinya sebagai Unicorn.

“Yes yes.. of course you’re unicorn.” Ujarnya girang. Meski ia sendiri tak mengerti mengapa harus merasa seperti itu.

***

Ia tak penah mengingat dengan jelas mulai sejak kapan. Ia hanya mengetahui satu hal yaitu bahwa takdir selalu kebetulan membawa ia dan El berada pada tempat dan waktu yang sama.

Kebetulan bersekolah di Taman Kanak-kanak yang sama, kebetulan melanjutkan ke Sekolah Dasar yang sama, kebetulan les di tempat yang sama, bahkan tinggal di komplek rumah yang juga sama. Dan ya, ia sebut ini takdir.

Bahkan sekarang ia merasa takdirlah yang menjadikan dia seekor kucing dan menjadikan El seekor tikus. Kucing dan tikus yang ditakdirkan berlarian tanpa ekor. Ia kembali kegirangan meski tetap tak mengerti mengapa harus merasa seperti itu.

***

Ia berlari mengejar tikus-tikus tanpa ekor di sekelilingnya. Tetapi hanya satu ekor tikus saja yang menarik perhatiannya. Tikus yang menyamar menjadi unicorn. Eh, atau unicorn yang menyamar menjadi tikus? Ah itu seharusnya tak menjadi soal kan?

Ia berlari dengan hati yang penuh rasa senang.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you unicorn.”

Ia berlari. Melewati Huge yang berada kurang dari satu meter di sampingnya. Ia berlari. Melewati Ice Cube yang terpaut jarak dua kali dua puluh lima sentimeter di sisinya. Ia berlari. Melewati Humans, melewati Cucumber, melewati semua yang bisa ia lewati.

Hanya ada Unicorn di kepalanya. Hanya Unicorn yang diinginkannya.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn..”

Anak perempuan itu menjadi begitu bahagia. Ia berlarian mengejar takdirnya atau yang disangkanya sebagai takdirnya. Dan meski hanya sebuah sangkaan toh ia tak peduli. Ia hanya tahu bahwa ia harus jujur mengikuti apa kata hatinya.

Queen, begitu ia biasa disapa. Ia telah memilih raja di hatinya dan berlaku jujur atas pilihannya. Itu adalah kemenangan yang besar. Ia tidak terlalu peduli jika semua yang dia kira, hanya serupa sangka, ia hanya merasa bahagia.

Sebelum akhirnya nanti lupa, harusnya semua yang ia alami hari ini diingat dan dicatat baik-baik. Jika ingin bahagia sayang, kata Bunda suatu hari, ikuti kata hati dan berlakulah sesuai apa yang hatimu katakan. Meski akan tidak selalu mudah, berusahalah. Jangan menyerah.

***

Tetapi, menjadi dewasa ternyata membuat manusia lupa bagaimana nikmatnya mengikuti kata hati. Betapa berharganya sikap penerimaan terhadap diri sendiri. Anak kecil tidak pernah menyangkal apa-apa yang dirasakannya. Apa yang dipikirkan begitu pula biasanya yang dilakukan. Ia mengikuti kata hatinya – yang luar biasanya ternyata sejalan dengan pikirannya.

Queen hari ini dan Queen lima belas tahun yang lalu, bukankah masih orang yang sama? Seorang perempuan -jika tak sudi lagi dikatai seorang anak- yang selalu mengikuti kata hati. Seorang perempuan yang berlari mengejar takdir yang diciptakannya sendiri. Seorang perempuan yang percaya bahwa takdir bukanlah takdir jika belum ada upaya yang penuh untuk sampai pada apa yang ingin dicapai.

Queen adalah perempuan pemberani. Tapi di mana berani itu bersembunyi kali ini?

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn..”

“Kamu kenapa sih ngikutin saya terus, Queen?” Tanya El suatu hari.

“Saya hanya ingin tahu apakah kamu juga suka pada saya, El.” Jawabnya sambil tersenyum. Lebar sekali.

Bayangan masa kecilnya dulu mengelibat di benaknya. Perempuan itu tersenyum. Aku Queen, perempuan yang selalu mengikuti kata hati. Queen, yang berlari mengejar takdirnya sendiri. Aku Queen, si pemberani.

Ia seolah mendengar debar jantungnya berbunyi, kencang sekali. Untuk hari ini ia rela menghabiskan waktunya lebih lama di depan cermin, mematutkan diri. Untuk hari ini ia bahkan rela mengenakan rok, yang seumur hidupnya begitu ia hindari. Untuk hari ini, hanya untuk hari ini.

Tapi kenapa rasa cemas seperti mengolok-ngoloknya sedari tadi? Kurang dari satu jam ke depan, ia akan bisa menemukan apa yang selama ini ia cari. Bagaimana bisa dia malah merasa takut? Sepertinya semua akan jauh lebih mudah jika saja dia bisa berlari ke arah yang berlawanan.

Tapi, akankah dia bahagia?

***

Di sebuah selasar, Queen mematung. Berdiri begitu anggun di depan karya Sunaryo, salah satu seniman kawakan yang cukup terkenal di Bandung. Ia sendiri sesungguhnya wujud dari karya itu sendiri. Sepasang kaki yang panjang dan lenjang, juga pinggangnya yang ramping cukup mampu membuat iri banyak wanita di dunia. Matanya yang berbinar selalu tampak cantik meski ia hanya mengenakan riasan sederhana, seulas bedak di pipi dan segurat tipis lipstik di bibir. Rambutnya yang halus dan panjang dibiarkan jatuh terurai beberapa senti di bawah bahu.

Ia tetap berdiri mematung. Sebuah judul menggangu isi kepalanya, Between Heaven and Earth (Yin and Yang). Selama ini, ia merasa hubungannya dengan El, bagaikan langit dan bumi. Bisa melihat satu sama lain, tapi tak kunjung bertemu. Ia tiba-tiba merasa menjadi manusia paling congkak karena ingin menciptakan takdirnya sendiri.

Setelah sekian lama, akankah dia pergi melarikan diri? Begitu saja? Bukankah bodoh jika dia melewatkan kesempatan yang tak mungkin datang dua kali?

“Stop being stupid Queen!” Umpatnya dalam hati.

Butuh udara segar, akhirnya ia beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi. Secangkir kopi mungkin akan bisa membantunya bersikap lebih tenang. Sebuah pesan masuk, ia membuka ponselnya, dari El.

“I’ll be late. Sorry..”

Selalu begitu. El tidak pernah menunjukkan perhatian, keseriusan atau tanda apa pun untuk dia meyakini bahwa hatinya tidak salah memilih. Ia mulai merasa ragu, mungkin memang El tidak pernah sekalipun ditakdirkan Tuhan untuknya.

Padahal ketika menerima pesan El tadi pagi ia begitu kegirangan. Ia bilang bahwa ini hari yang istimewa, bahwa ada sebuah kejutan menantinya. Mungkinkah El ingin membayar rasa bersalah karena melupakan hari ulang tahun Queen dua minggu lalu? Ah tapi memang dia selalu lupa bukan?

Sore itu, senja menampakkan warnanya yang keemasan. Di penghujung hari, kemilau senja selalu memukau banyak mata yang memandang. Waktu yang tepat untuk tiba-tiba merasa gembira dan berduka pada waktu bersamaan. Perempuan itu kesepian.

***

Lelaki itu datang tepat pada saat rasa sepi menyentuh puncaknya yang tertinggi. Wajahnya pucat seperti kain kanvas tak berisi. Setengah berlari ia menuju kekasih hati yang menunggunya sedari tadi.

“Hei, I’m sorry for coming late..”

Perempuan itu menggeleng. Berusaha tak tampak sebagaimana ia terlihat di mata lelakinya saat ini.

“It’s okay El. I’m not waiting that long anyway.. and I’m not waiting
any longer.”

“What do you mean?”


“I’ve something to tell.”

“Me too.”

“Let me say it first.” Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam. Lalu lanjutnya, “I think it’s time to say goodbye. I’m sorry for being selfish all this time.”

Lelaki itu mengerutkan kening. Tak mengerti.

“Wait, I don’t get it.”

“El, I’m not finish yet.” Potong Queen. “All this time, I’m too pride of myself and I’ve been acting out that I know you and even your heart, but I don’t, not even a bit.”

“What are you talking about?”

“I’m really sorry El.”

“Sorry is not accepted. You girl, you’ve already had my heart, but then you want to leave just like that! Yes, you’re right you’re a selfish brat!”

Queen seperti tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Ia seperti sedang bermimpi. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetapi ketika keheningan melanda meja di sudut ruangan sebelah jendela itu, seseorang datang menghampiri keduanya.

“Oh, jadi ini yang mau kamu kenalin sama mama, El?” Sebuah suara tepat di belakang Queen membuatnya terperanjat. Queen menoleh ke belakang, dilihatnya seorang wanita yang kecantikannya tak lekang oleh waktu, berjalan semakin mendekati meja Queen dan El. Queen beranjak dari kursinya segera setelah sebelumnya menatap El penuh tanda tanya. Ia mengulurkan tangannya.

Surprise!” Ujar El, lirih.

“Queen, tante.”

“Queen? Such a lovely name! Saya Ellisa, mamanya El. Dia sering banget cerita soal kamu.”

What did she just say once again? Queen merasa dia benar-benar harus memeriksakan pendengarannya ke dokter kali ini. Dan ketika menatap El, lelaki itu hanya duduk sambil menahan tawa.

“Gimana kabar mamamu Qiy?”

“Baik tante.”

“Waktu kecil kamu dipanggil Qiy kan?”

“Eh? Iya. Betul tante.”

“Kamu jadi cantik banget ya sekarang..”

“Ah tante bisa aja. Masih lebih cantik tante, saya kalah jauuhh. Hehehe..”

“Hmm, pinter ngomong juga ya. Coba dulu tante gak pindah ya, udah besanan sama mamamu dari kapan tau kali kita. Hahaha..”

Di saat yang sama, mata Queen dan El bertemu. Keduanya tak bisa menyembunyikan wajah mereka yang merah padam. Entah bagaimana mereka merasa baru pertama kali bertemu. Mereka sama-sama malu.

Dalam hati Queen berujar, ‘Thanks God, I’m wearing a skirt!’

***

Suatu pagi di akhir bulan Februari, Queen kembali berdiri di sebuah selasar dan menatap sebuah karya yang judulnya dulu sempat mengusik pikirannya. Bedanya kali ini ia tidak berdiri mematung sendiri saja. Ada El di sebelahnya.

“Jadi ini yang sempat bikin kamu galau tempo hari? Like seriously this one?” El tidak bisa tidak tertawa.

“Kamu nih ya! You’ve promised!

“Ahahaha..” El tetap tidak bisa tidak tertawa. Queen manyun – kecewa.

Tetapi tak lama. Sesuatu menyentuh lembut kepalanya – tangan El.

“Silly girl! Kamu tahu Yin dan Yang itu berarti jalan?”

Eh? Queen mencari kedua mata El. Bertanya.

“Yes Queen! Way – Jalan. To help two unicorns find their way home.”

Queen menyunggingkan senyumnya, lebar.

“Jadi jawabannya iya nih?”

“Bisa jadi.”

“Hahahaha..”

Ketika itu, sinar matahari tepat jatuh menembus jendela. Di kepala Queen dan El, bayangan masa kecil melintas.

“Unicorn.. unicorn.. I follow you, unicorn.”

Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan berlarian. Senang.

-End-

1984, a Review

image

“Menjadi minoritas, bahkan minoritas yang hanya satu orang pun tidak membikinmu gila. Ada kebenaran dan ada ketidakbenaran, dan kalau kamu terus memegang teguh kebenaran itu, meski sampai harus menentang seluruh dunia pun, kamu tidak gila.”
(George Orwell)

Orwell selalu dan terlalu piawai dalam menyuguhkan cerita-cerita yang mengerikan, menyedihkan, dan atau cerita-cerita yang serupa mimpi buruk bagi semua orang. Melalui satir yang kuat, ceritanya mengalir dan mengaliri sengatan-sengatan tajam di kepala saya. Buku ini jauh lebih berat daripada penampakannya. Perlu tarik keluar napas ketika membacanya.

1984 merupakan gambaran luluhnya kehidupan masyarakat, ketika setiap gerak diawasi, setiap kata yang terucap disadap, dan bahkan ketika setiap pemikiran dikendalikan. Mengerikan!

Akan tetapi, terlepas dari segala kengerian ini, 1984, tetap menarik untuk dibaca. Dan saya berani bilang, novel ini sangat layak disejajarkan pada deretan buku-buku terbaik sepanjang masa.

Well, saya mungkin akan merasa jauh lebih terpukau jika membacanya dengan bahasa pengantar pertama. Kaidah-kaidah bahasa Newspeak dan Oldspeak yang disuguhkan sepertinya akan memukul jauh lebih tajam.

Bintangnya? Empat dari lima. Meski sebenarnya ingin memberi nilai sempurna, saya ternyata tidak cukup tega dengan segala kegetiran ceritanya. 

*Ah salah saya menyelesaikan buku ini sebelum pergi tidur. Semoga tidak terbawa mimpi..

Sepotong Matahari Untukmu

Hei kamu! Tidak akan habis sepucuk surat menuliskanmu. Karena yang ingin kusampaikan, jauh lebih banyak daripada yang bisa kutuliskan.

Baiknya mulai dari mana ya?

Apa mungkin kamu percaya jika kubilang, aku masih ingat kali pertama aku melihatmu berdiri di ruangan itu? Saat itu, tak pernah terpikir olehku akan kutulis surat ini untukmu. Aku pasti sudah gila. Haha.

Kamu tidak tahu kan, di mataku kamu serupa matahari. Darimu, kutangkap hangat yang selama ini aku cari. Kamu menuntunku dengan cahaya, membuat langkah demi langkah yang aku ambil terasa lebih bermakna.

Aku tahu, menatapmu terlalu lama bisa membuat mataku terasa perih. Membuat keringatku bercucuran dan kulitku terasa panas terbakar. Tapi, di balik terikmu kutangkap juga teduh. Aku mengerti, kamu bersinar bukan tanpa alasan.

Maka sekali ini biar kuungkapkan rasa terima kasihku yang terdalam. Terima kasih untuk hari demi hari yang menginspirasi, yang membakar semangatku untuk menjadi lebih berarti. Sekali lagi, setiap hari.

Hei kamu! Tunggu aku. Aku akan juga menjadi matahari, seperti kamu.

(Bandung, dari tumpukan surat pada 2014)

Cinta, percaya

Perjumpaan denganmu selalu pasti menyenangkan – menenangkan. Penuh cerita perihal yang membikin pusing kepala, hingga hal-hal konyol yang membuat kita merasa menjadi seperti orang gila. Hidup katamu, baru terasa hidup ketika kamu berhasil melepaskan diri dari belenggu opini yang semena disematkan orang sebagai predikat atau kata sifat dalam serangkaian kalimat.

Ada banyak suara yang tentunya harus kamu dengarkan, tapi jangan terlalu dalam, nanti bisa tenggelam. Terus suara hatimu jadi teredam. Bagaimana jika tak bisa lagi kamu bedakan? Mana yang benar dirimu, mana yang bukan?

Hati, katamu, hanya menyuarakan kebaikan dan hanya kebaikan, bukan kebalikan. Dan ketika kamu memilih untuk percaya, dunia akan terlihat jauh berbeda. Jangan takut, sebab kekecewaan adalah bagian dari proses pendewasaan – proses pertumbuhan.

Dan manusia butuh untuk tumbuh, itu hakikatnya bukan?

Pertanyaanmu tak memerlukan jawaban. Tepat seperti ini. Aku tak memerlukan satu pun pertanyaan tentang mengapa aku ada di sini bersamamu.

Perjumpaan denganmu, pada senja keemasan di langit biru yang kemerahan, menjelma semacam pemandangan yang selalu akan kusimpan dalam ingat yang lekat.

Perjumpaan denganmu, telah menjadi semacam penantian yang haru juga rindu.

Bagaimana ini? Ada sepotong croissant yang kamu minta buatkan sebagai teman tambahan pada rangkaian cerita yang akan datang. Haru dan rindu sepertinya akan berubah menjadi kecemasan berkepanjangan. Haha.

Ah, katanya makna ada karena perbedaan, sedang cinta ada ketika kamu percaya. Aku percaya bahwa pada sepotong croissant yang kamu minta barusan akan banyak kutemukan hal yang mudah-mudahan bisa kumaknai sebagai pelajaran, yang mudah-mudahan sekaligus menumbuhkan.

Nah selamat berakhir pekan ya kamu. 🙂

Tinggal yang tertinggal

Di atas meja makan
pagi ini kita sarapan
Sekali lagi
merayakan kebersaman       
atau perpisahan
Tak bisa lagi kubedakan
Heran
Manusia gemar sekali melupakan
juga menghancurkan
Dan dengan senyum kita bahkan
sempat saling mengucap selamat                                      Pada genggaman yang erat
tapi tak menyisa hangat
Tinggal yang tertinggal,
Selamat tinggal

Sampai Nanti

Aku senang membacamu
Menelusuri likuan hidupmu
Menertawakan
semua yang kamu tertawakan
Atau menangisi    
semua yang kamu tangisi

Kamu percaya bahagia itu sederhana    
Seperti bahagia membagi
sepotong roti              
untuk dimakan bersama
Selalu juga kamu percaya
semua                         
yang aku katakan,           
Serius sayang bukan Sirius
yang paling terang
Tapi kamu

Kamu tertawa  
Mengiyakan semua bahkan
yang diam-diam tak kamu amini
Seperti meresapi setiap isi
hari demi hari                         
yang bisa kita lewati       

Kebersamaan ini,
untuk berapa lama lagi?

Sampai hari itu sayang,
aku ingin melambaikan
Selamat jalan
dengan senyuman

Sampai nanti
Sampai kita berjumpa lagi