Untuk L, dengan cinta

Di kepalaku muncul beragam pertanyaan seperti, bagaimana kamu bisa tetap berdiri di antara teman-temanmu malam itu. Sambil memasang senyum yang seperti ingin bilang, aku baik-baik saja dan ini bukan bohong. Bagaimana kamu bisa dengan rapi menyembunyikan kecamuk dalam pikiranmu juga duka yang seperti ingin kamu telan saja sendirian, sedang kami -aku dan teman-temanmu- tahu, kamu tidak sedang baik-baik saja.

Sulit untuk membuatmu bicara, karena aku tahu kamu akan terluka dua kali lebih banyak jika kamu melakukannya. Belum lagi kering luka itu, masihkah harus dijajakan di depan banyak orang? Aku tahu kamu butuh waktu, hanya saja aku tak mau membiarkanmu merasa sendirian.

Teman-temanmu juga sepakat. Maka di sinilah kami, berjajar berimpitan, demi menghadirkan keyakinan dalam dirimu bahwa kami peduli. Adakah kau rasakan perasaan kami, cinta kami, kekhawatiran kami untukmu? Cintaku, kekasihku, tegarlah, tak kuasa kedua kaki ini berdiri jika melihatmu dirundung duka seperti itu. Apa yang bisa kulakukan demi mengembalikan ceria hari-harimu? Cinta, jangan patahkan hati ini dengan luka dan perimu.

Aku menunggumu, kapanpun kamu mau, datanglah, medekatlah, biar kubisikan kisah seorang pangeran cilik dan mawar merahnya. Dia suka memandang senja.

Aku sedang memandanginya sekarang. Lembut warnanya seperti warna dua bola matamu. Warna yang aku rindu. Kamu tahu, senja terkadang bisa bernyanyi? Dia sekarang sedang memutar melodi dan bait lagumu di kepalaku. Lagu yang sering kau nyanyikan, ketika aku rindu.

Cinta, tersenyumlah! Kau tahu kan, aku selalu benci mengatakannya seperti ini. Tapi untukmu, apapun kulakukan.

Dari A, dengan cinta.

Advertisements

Wangi sampo dan menu sarapan pagi

Puisimu tiba
pada sarapan pagi
yang menyisakan sunyi
bunyi piring dan gelas kotor
yang minta dicuci

Sapardi, kamu bilang
menulis puisi tentang api,
tentang kayu, dan tentang
menjadi abu
tentang awan dan hujan
dan ketiadaan*

Puisimu sayang, melulu candu
pada tidur malam malam
yang sulit terpejam

Beritakan kepadaku
Wangi sampo yang menempel di rambutmu
Pagi ini
Adakah bau yang aku kenali?

Beritakan kepadaku, sayang
Menu sarapan pagimu
Hari ini
Adakah sepotong roti, selai senja,
dengan secangkir kopi penuh
rindu yang
kukirim untukmu?

*Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”, dalam Hujan Bulan Juni (1989)

Jika Sendiri

Di atas aspal yang ditimpa terik matahari, aku berjalan tanpa suara. Tanpa berpikir apa-apa.

Kepala ini bandara. Orang banyak berlalu lalang. Tetapi tidak ada yang tinggal.

Seseorang,
duduk di ujung kursi panjang. Seseorang yang lain, di ujung lainnya. Berseberangan.

Itu adalah kau
Itu adalah aku

Selamanya kita,
berada pada jalan dengan tepi yang berbeda. Tak ada temu pada dua titiknya.

Di atas aspal, aku berjalan tanpa suara. Tidak ada kau di sisiannya.

Matahari
bersinar kian terik. Sedemikian lama
hingga tiba di pintu senja.

Tapi memang. Tak pernah ada yang berkata,
Jalan ini mudah. Sudah sejak langkah pertama.

 

Narcissus

seperti juga aku: namamu siapa, bukan?
pandangmu hening di permukaan
     telaga dan rindumu dalam
tetapi jangan saja kita bercinta
jangan saja aku mencapaimu dan kau
     padaku menjelma

atau tunggu sampai angin melepaskan
     selembar daun
dan jatuh di telaga: pandangmu
     berpendar, bukan?
cemaskah aku kalau nanti air hening
     kembali?
cemaskah aku kalau gugur daun demi
     daun lagi?

Sapardi Djoko Damono, 1971

dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata
dan menatap wajahmu. aku temukan

kata-kata yang siap tumbuh lagi.
tapi menulis puisi ialah melupakan
dan meluapkan ingatan.

sejak itu hari selalu terbaca
sebagai buku yang seluruh berisi
catatan penutup yang panjang.

kadang-kadang datang
seorang menghibur: tidak ada
permukaan indah tanpa kesedihan
di dasarnya.

dan aku mendambakan
sebaliknya.

-M. Aan Mansyur

Buku Harian, 28 Oktober

Hujan mengubah jalanan musim kemarau  semacam
cermin yang mengganti namaku jadi Biru

Kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan
selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali
bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling
bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan
payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama
dengan teduh.

Jalan-jalan sempit. Tangga yang sambung menyambung.
Dinding-dinding yang saling berdesak (tapi kita telah kebal pada klaustrofobia). Polisi yang basah kuyub.
Kucing hitam yang menggigil di atas tembok. Pintu-pintu yang terkunci. Apartemen-apartemen kosong. Jendela yang tak memantulkan apa-apa selain gelap…

Tak ada yang lebih jauh dari bentang di balik tirai hujan
di tepi payung.

Ketika hujan berhenti, matahari telah pergi. Langit pekat, dan kita tahu, tak akan ada pelangi.

Kata satu suara dari film lama:
                 Cinta adalah rentang waktu.
                 Tak baik bertemu orang yang tepat
                 Terlalu cepat atau terlambat.

Tapi hujan telah mengubah wajahmu semacam cermin
yang mengganti namaku jadi Biru.

(dari Buku Tentang Ruang
oleh Avianti Armand)