Hey Jude for your lullaby

Kinda hard to sleep? Same here! I was searching for some songs for my lullaby, when I suddenly remembered this song. One day, somebody told me that instead of a lullaby, his mom usually sang him Hey Jude! How cool, isn’t it?!

I love the song like sooo much.. but I wonder, how will I encounter it? I maybe fall asleep right before I realized, or I maybe just stay awake until the sun is rising up. Let’s not be worried about how will I react, let’s just enjoy the song and the old clip. This is so much epic! πŸ™‚

Membawa Serta Lupa

Aku butuh kertas dan pena
dan menulismu segera
sebelum lupa
Bahwa aku akan lupa
Dengan segera
Segala cerita
menyangkut dirimu
dulu

Ah, di mana kenangan
tadi kusimpan?
Jangan-jangan justru lupa
kubawa serta

Eh, aku harus lekas
Kuseret kakiku tegas

Hei, kenapa mesti tergesa?
Hatiku bertanya
Benar juga
Langkahku melambat
Tapi justru melupakanmu

Cepat

PS: untuk kamu yang sedang bersedih, iya kamu, lupa itu hanya urusan waktu

Catatan lari pagi

Kamu tidak pernah tahu sejauh apa
Kamu mampu berlari
Juga tak pernah berpikir tentang berapa besar
kekuatan yang kamu miliki

Jangan memandang diri rendah
Kamu tidak lemah

Kamu memiliki kekutan itu
Bahkan jauh lebih banyak daripada yang bisa
kamu bayangkan

“Seberapa jauh kamu mampu berlari hari ini?” Tanyamu menyelidik.

“Sejauh-jauhnya,” jawabku, “selama bersamamu, insyaAllah aku mampu.” Lanjutku.

Senyum di wajahmu lalu merupa lupa apa saja yang berat di kepala, apa saja yang berat di hati.

Ayo lari lagi. πŸ™‚

dari Sebelum Sendiri

Sebenarnya puisi ini sudah lama nyangkut di kepala, sudah sejak pertama bukunya datang dibungkus kertas cokelat, di depan pintu, beberapa waktu lalu. Saya gemas. Puisi ini harus ada di blog ini.

Maka selamat menikmati…

barangkali kau, barangkali
aku, telah tersesat sungguh
sejauh ini – kata dan kita
saling ingkar.

orang-orang menyebut cinta.
tapi kita sedang berpikir

tentang laut yang selalu basah
demi langit yang selalu ingin
kering.

M. Aan Mansyur,
Sebelum Sendiri

Ngomong-ngomong selamat Hari Puisi Nasional ya.. πŸ™‚

Mari hidup seribu tahun lagi. Cheers!!

 

Sebuah Perayaan

Aku tahu bahwa yang ingin kamu sampaikan lebih dari sekedar selamat. Bahwa kita mendamba serupa pesta. Perayaan. Merayakan kemenangan atau barangkali kekalahan. Di kebun belakang, tepat sebelum ribuan terompet dibunyikan. Atau kembang-kembang api dinyalakan.

“Siapa lagi yang kau undang?”
“Tak ada. Hanya kau.”

Kamu mengangkat ujung kanan dan kiri bibirmu, menyuguhkan senyum terhangat di dunia. -Rupa candu dalam rinduku.

“Hei, mau kau apakan balon-balon itu?” Tanyamu sambil menunjuk beberapa balon gas yang kusimpan di salah satu sudut ruangan.
“Mau kusuruh terbang.”
“Malam-malam gini? Biar apa?”
“Biar mereka nyari cahaya.”
“Memang mau titip pesan apa buat cahaya?”
“Hehehe.. rahasia.”

***

Sudah kubilang belum bahwa sejauh ini, hanya kamu yang mengerti. Semua yang terang-terangan kunyatakan. Semua yang diam-diam kusembunyikan. Hanya kamu.

Kupikir lucu, ketika kamu menemukan seseorang yang memahami kamu begitu saja. Ketika kamu bahkan tidak sedikit pun perlu berusaha. Seolah Tuhan mengirimkan hadiah istimewa untukmu. Hanya untukmu.

“Untukku?”

Sebuah kotak berwarna biru tepat di samping di mana kamu duduk saat ini, terikat pita dengan warna sama, hanya lebih muda. Aku mengarahkan jari telunjukku ke sana.

“Percaya diri sekali.” Ujarmu. Ditambah senyum jahil.

Menyebalkan! Meski tahu kamu hanya ingin menggodaku, tetapi rasanya seperti dikhianati perasaan sendiri. Tiba-tiba aku merasa butuh semacam pengalihan, jadilah aku beranjak menuju dapur. Membuka lemari es untuk mencari apa saja yang bisa kumakan atau kuminum.

Tapi ternyata aku justru melakukan kesalahan lain. Sepotong croissant gagal pangganglah yang kulihat kali pertama pintu kulkas kubuka. Sial! Harga diriku jadi terluka dua kali rasanya.

Cepat-cepat kuambil sebotol minuman yang paling dekat dari jangkauan. Kubuka dan kuteguk, ternyata soda.

“Sial!”

Aku mengumpat. Dan kali ini tidak hanya dalam hati.

Dari ruang tempatmu duduk, samar-samar terdengar suara benda terjatuh di atas lantai. Aku seperti melihatmu terlonjak di atas sofa dan menjatuhkan kotak biru yang ada di sampingmu tadi. Dan sesuatu yang kau ujarkan membuatku tersenyum.

Bagaimana kamu selalu bisa membuatku tak merasa sendirian? Bagaimana lalu kamu menjelma teman pada setiap keadaan? Membersamai suka, menemani duka. Aku pikir Tuhan terlalu baik karena Dia mengirimkanmu padaku.

“Teeeeettttttt… teeeeettttttt”

Bunyi terompet mulai terdengar lagi. Seperti tidak rela dikalahkan bunyi kembang api yang mulai dinyalakan setelah adzan maghrib tadi berkumandang. Kalau terompet bisa bicara, mereka mungkin akan bilang seperti ini, “Hei kembang api, kalian kan sudah menyala, terang pula, kenapa ikut-ikutan berbunyi segala? Biarkan kami sajalah yang berbunyi.”

Ketika aku memikirkan jawaban apa kira-kira yang akan kembang api sampaikan, aku menyadari kamu tengah berdiri di depan pintu kulkas, di sampingku. Hei sejak kapan dia..

“Soda.. my mistake. Aku yang menyimpannya di situ tadi. Terry yang titip. Rencananya akan aku bawa kalau pulang nanti.”

“Hmm.. jadi kamu udah tahu dari tadi?”

“Hmm.. croissant itu maksudmu?”

Sial! Aku ingin mengumpat lagi rasanya.

“Hehe.. udah.”

Dan senyummu jauh lebih lebar.

Aaaahhhhh…

***

Malam mencapai puncaknya ketika ratusan kembang api membakar diri sendiri dan ratusan terompet bersautan hampir seperti bernyanyi, tapi nadanya sumbang sama sekali. Tetapi toh tak ada yang peduli. Para manusia hanya ingin sebuah perayaan. Dan hari ini merupakan satu dari banyak perayaan yang biasa mereka lakukan.

Aku dan kamu hanya dua manusia yang memanfaatkan kesempatan yang jarang datang. Liburan.

“Aku mendengarmu mengumpat tadi.”

“Aku tidak ingin membiarkanmu mengumpat sendirian.”

“Hehehe..”

Kita menatap langit.

“Croissant buatanku sama sekali tidak enak.”

“Memang. Tapi aku tetap senang memakannya.”

“Hehehe..”

Kembang-kembang api berpendaran.

“Boleh kupakaikan Feddy jaket darimu?”

“Enak saja. Memangnya aku apa, memakai jaket yang sama dengan boneka beruang?”

“Hahahaha…”

Sahutan terompet semakin berkurang.

“Lalu kapan balon-balon itu akan diterbangkan?”

“Nanti selepas sholat subuh.”

“Hmm.. biar gak terlalu lama ketemu cahaya?”

“Hehehehe..”

Di kebun belakang, sepasang manusia, laki-laki dan perempuan duduk bersebelahan. Mereka mengenakan jaket yang sama. Warnanya yang putih tampak mencolok di kegelapan malam. Di sekitarnya ada beberapa piring berisi makanan yang tak penuh lagi. Pada sebuah piring yang semula penuh berisi croissant hanya tersisa remahan.

Angin yang bertiup semakin lama semakin kencang. Seperti sengaja menyambut balon-balon gas yang baru lepas dari tangan dua manusia yang kedinginan. Balon-balon itu dihantarkan dengan senyuman paling lebar yang pernah mereka lihat sepanjang menanti di sudut ruangan tadi. Kalau kedua manusia itu bisa mendengar, sesungguhnya balon-balon itu berkata, “Kami akan terbang setinggi-tingginya. Bukan untuk menyampaikan pesan. Pesanmu untuk Tuhan sudah sampai duluan. Kami terbang mewakili kemungkinan terkabulnya harapan dan keinginan kalian. Wahai insan Tuhan, cepat masuk ke ruangan sebelum flu menyerang kalian.”

“Ra, kamu dengar sesuatu?”

“Dengar apa?”

Balon-balon terbang semakin tinggi.

“Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.”

Kening mereka berkerut. Angin semakin kencang bertiup. Balon-balon terbang semakin lama semakin tinggi. Semakin lama semakin tidak terlihat sama sekali. Seperti ditelan langit malam yang sebentar lagi berubah menjadi pagi.

Di bawah langit, di atas rerumputan, dua bahu saling bertemu. Dua pasang mata menatap langit yang dipenuhi bintang yang baru saja dikirimi pesan lewat balon-balon yang terbang. Kedua pasang mata itu akhirnya saling mencari. Ada senyum yang lebar di bibir keduanya. Juga bersin. Dan berisik.

“Hahahaha.. ayo masuk.” Ujar keduanya bersamaan.

-End-