Roy Kim: Seoul Jazz Festival

1. As if I’m ready to die 2. A sudden heart attack 3. DAMN! I can’t! 4. Marry me, Roy! 1. Can it be prettier? 2. It’s too beautiful 3. It’s too heart-warming 4. I can’t 5. I love you too much 1. And so it is 2. Just like you said it would be […]

A little goodbye

Jumat pagi yang lalu, kita masih sempat bertemu. Jumat pagi ini, tidak. Perbedaannya terasa nyata. Meski aku masih ingin berpura-pura. Kau ada di situ setiap kali aku bergegas pergi. Tersenyum senang, memanggil namaku dan melambaikan tangan. Wajahmu terbayang. Tanganku gemetar dan akhirnya aku tak sanggup menulis lagi. Aku berhenti – dan kurasa aku butuh cukup […]

Untuk L, dengan cinta

Di kepalaku muncul beragam pertanyaan seperti, bagaimana kamu bisa tetap berdiri di antara teman-temanmu malam itu. Sambil memasang senyum yang seperti ingin bilang, aku baik-baik saja dan ini bukan bohong. Bagaimana kamu bisa dengan rapi menyembunyikan kecamuk dalam pikiranmu juga duka yang seperti ingin kamu telan saja sendirian, sedang kami -aku dan teman-temanmu- tahu, kamu […]

Wangi sampo dan menu sarapan pagi

Puisimu tiba pada sarapan pagi yang menyisakan sunyi bunyi piring dan gelas kotor yang minta dicuci Sapardi, kamu bilang menulis puisi tentang api, tentang kayu, dan tentang menjadi abu tentang awan dan hujan dan ketiadaan* Puisimu sayang, melulu candu pada tidur malam malam yang sulit terpejam Beritakan kepadaku Wangi sampo yang menempel di rambutmu Pagi […]

dari Sebelum Sendiri, sekali lagi

warna favoritku: menutup mata dan menatap wajahmu. aku temukan kata-kata yang siap tumbuh lagi. tapi menulis puisi ialah melupakan dan meluapkan ingatan. sejak itu hari selalu terbaca sebagai buku yang seluruh berisi catatan penutup yang panjang. kadang-kadang datang seorang menghibur: tidak ada permukaan indah tanpa kesedihan di dasarnya. dan aku mendambakan sebaliknya. -M. Aan Mansyur