Menenangkan Rindu

  Warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus. Langit paham hal-hal semacam itu. Kata-katamu bicara terlalu banyak tapi tidak pernah cukup. Langit selalu cukup dengan cuaca dan pertanyaan- pertanyan. –M. Aan Mansyur

Membawa Serta Lupa

Aku butuh kertas dan pena dan menulismu segera sebelum lupa Bahwa aku akan lupa Dengan segera Segala cerita menyangkut dirimu dulu Ah, di mana kenangan tadi kusimpan? Jangan-jangan justru lupa kubawa serta Eh, aku harus lekas Kuseret kakiku tegas Hei, kenapa mesti tergesa? Hatiku bertanya Benar juga Langkahku melambat Tapi justru melupakanmu Cepat PS: untuk […]

dari Sebelum Sendiri

Dia tidak menuliskan judulnya apa. Saya jadi sedikit kesulitan mencari judulnya di sini. Dan sebenarnya puisi ini sudah lama nyangkut di kepala, sudah sejak pertama bukunya datang dibungkus kertas cokelat, di depan pintu, beberapa waktu lalu. Saya gemas. Puisi ini harus ada di blog ini. Maka selamat menikmati… barangkali kau, barangkali aku, telah tersesat sungguh […]

Tinggal yang tertinggal

Di atas meja makan pagi ini kita sarapan Sekali lagi merayakan kebersaman        atau perpisahan Tak bisa lagi kubedakan Heran Manusia gemar sekali melupakan juga menghancurkan Dan dengan senyum kita bahkan sempat saling mengucap selamat                                      Pada genggaman yang erat tapi tak menyisa hangat Tinggal yang tertinggal, Selamat tinggal

Sampai Nanti

Aku senang membacamu Menelusuri likuan hidupmu Menertawakan semua yang kamu tertawakan Atau menangisi     semua yang kamu tangisi Kamu percaya bahagia itu sederhana     Seperti bahagia membagi sepotong roti               untuk dimakan bersama Selalu juga kamu percaya semua                          yang aku katakan,            Serius sayang bukan Sirius yang paling terang Tapi kamu Kamu tertawa   Mengiyakan semua bahkan yang diam-diam tak […]