Buku Harian, 28 Oktober

Hujan mengubah jalanan musim kemarau  semacam cermin yang mengganti namaku jadi Biru Kita adalah sepasang roh yang dikutuk gentayangan selamanya. Dan hari ini, di tikungan itu, kita kembali bertabrakan. Tak ada guruh, juga petir. Kita cuma saling bercakap dengan datar. Dan menatap. Aku menawarkan payung. Kamu mengangguk. Lalu kita pulang bersama dengan teduh. Jalan-jalan sempit. […]

Cara Mengingatmu

Kamu selalu mengernyit Setiap kali menyengaja aku lupa Kutambahi gula pada setiap kopimu yang pahit Tapi kamu minum juga Aku tidak pernah percaya bahwa Rasa pahit mampu membuatmu Berdiri lebih kokoh ketika semua hal di sekitarmu Menyuruhmu roboh Dan kamu tidak pernah percaya bahwa Rasa manis mampu membuatmu tertawa Bahkan di saat semua hal di […]

Kehilangan Juli

Juli datang. Mengetuk pintu di depan. Tak lama waktu yang dia perlu. Juli masuk. Mencari tempat duduk. Pada sebuah ruang, Juli berputar. Dinding. Pintu. Dan jendela.  Sepertinya aku tidak ada di mana-mana. Masih berkutat seputar Juni. Juga sibuk mencoba begitu banyak cara. Bagaimana melewati Juli? Mungkin melompat ke Agustus. Atau tidur hingga dibangunkan September. Aku […]

Pulang

Aku rindu tapi tahu takan sampai aku padamu Berputar terlalu lama Nyatanya membuatku lupa Kamu pernah ada di suatu tempat istimewa yang tidak bisa sesiapapun temukan di mana-mana Bagaimana bisa kukembalikan Selebar peta yang kau berikan Kamu bilang Simpan Kelak jika lupa Selalu bisa Kamu temukan jalanmu pulang

Menenangkan Rindu

  Warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus. Langit paham hal-hal semacam itu. Kata-katamu bicara terlalu banyak tapi tidak pernah cukup. Langit selalu cukup dengan cuaca dan pertanyaan- pertanyan. –M. Aan Mansyur

dan hujan

Kita pernah berlarian di bawah hujan di sebuah kota tua yang menyimpan banyak cerita; tentang laki-laki yang mengirim senja untuk kekasihnya hingga negara yang senang menimang rakyatnya dengan cerita sianida Kita memilih berlarian di bawah hujan menolak sajian ketidakadilan yang banyak dirayakan jam demi jam Kota ini terlalu tua untuk menerima lebih banyak luka dan […]

Sindiran Penyanyi di Kedai Kopi

Pagi kuseduh kopi dan tak bisa berhenti memikirkanmu Aku cemburu pada udara yang kau cium mula-mula dari secangkir gayo yang menghilangkan beku jari-jemarimu Aku cemburu pada sapa mentari pagi yang lebih dulu mendaratkan cahaya di kedua matamu yang masih terpejam Semalam seorang penyanyi melanturkan sebuah lagu bernada rindu di atas sebuah kursi di kedai kopi […]

gerimis

Gerimis turun begitu manis. Membawa pagi serasa berjalan begitu pelan. Membuatku hanya ingin bergelung di atas sofa seharian, ditemani secangkir cokelat juga kaus kaki yang melekat hangat. Aku masih ingat. Sepasang mata itu. Aku masih ingat. Sentuhan yang menguatkan itu. Perjalanan ini membawa aku dan kamu berputar lama terlalu. Mencari arah pada tuju yang semoga […]

Bersama Kopi dan Dingin

Bersama kopi dan dingin, kutitipkan rasa rinduku kepada angin. Ada sunyi berbunyi, pelan sekali. Merambat lambat. Seiring waktu yang terus bergerak. Tidak ada kamu di situ. Malam pecah, menumpahkan warna gelap di atas langit. Keningku mengernyit. Menemukanmu pasti akan jadi jauh lebih sulit. Tak apa. Ada siang yang akan menumpahkan warna terang. Aku akan tenang. […]

senja ini juga sama

Aku perlu meluruskan isi kepalaku. Apa di situ masih ada kamu? Aku tak tahu. Tak bisa kutemukan. Isi kepalaku berantakan. Aku perlu membuang ingatanku sebagian. Terutama yang terlalu penuh berisi kamu. Akh, aku tak tahu. Mungkin aku harus berputar, entah untuk kembali ke titik awal atau mencari jalan keluar. Tapi lagi, kamu lagi yang kutemukan. […]