Cara Mengingatmu

Kamu selalu mengernyit Setiap kali menyengaja aku lupa Kutambahi gula pada setiap kopimu yang pahit Tapi kamu minum juga Aku tidak pernah percaya bahwa Rasa pahit mampu membuatmu Berdiri lebih kokoh ketika semua hal di sekitarmu Menyuruhmu roboh Dan kamu tidak pernah percaya bahwa Rasa manis mampu membuatmu tertawa Bahkan di saat semua hal di […]

Pulang

Aku rindu tapi tahu takan sampai aku padamu Berputar terlalu lama Nyatanya membuatku lupa Kamu pernah ada di suatu tempat istimewa yang tidak bisa sesiapapun temukan di mana-mana Bagaimana bisa kukembalikan Selebar peta yang kau berikan Kamu bilang Simpan Kelak jika lupa Selalu bisa Kamu temukan jalanmu pulang

dari Sebelum Sendiri

Sebenarnya puisi ini sudah lama nyangkut di kepala, sudah sejak pertama bukunya datang dibungkus kertas cokelat, di depan pintu, beberapa waktu lalu. Saya gemas. Puisi ini harus ada di blog ini. Maka selamat menikmati… barangkali kau, barangkali aku, telah tersesat sungguh sejauh ini – kata dan kita saling ingkar. orang-orang menyebut cinta. tapi kita sedang […]

Sebuah Perayaan

Aku tahu bahwa yang ingin kamu sampaikan lebih dari sekedar selamat. Bahwa kita mendamba serupa pesta. Perayaan. Merayakan kemenangan atau barangkali kekalahan. Di kebun belakang, tepat sebelum ribuan terompet dibunyikan. Atau kembang-kembang api dinyalakan. “Siapa lagi yang kau undang?” “Tak ada. Hanya kau.” Kamu mengangkat ujung kanan dan kiri bibirmu, menyuguhkan senyum terhangat di dunia. […]

Keinginan Kemenangan

Kemenangan tidak pernah datang dengan mudah, atau mudah-mudahan. Kamu perlu berusaha, berdoa dan berkeinginan menjadi pemenang.¬†Ketiganya tentu sama penting. Tapi, mana yang layaknya menjadi dasar atau langkah awal sebuah kemenangan? -Doa, usaha, atau keinginan? Seseorang pernah bertanya tentang seberapa besar keinginanku menjadi pemenang. Ketika itu aku bilang cukup besar atau mungkin sangat besar, tapi jujur […]

semangkuk senyum untukmu

Kau datang Kau buat jantungku melompat-lompat   Akh, tapi tangan siapa itu yang kau genggam?   Di genggaman ini telah kusiapkan semangkuk senyum Baru saja kutiriskan, hangat masih Tadinya ingin kusuguhkan untukmu Tapi tanganmu penuh   Tunggu, biar aku mundur dulu Biar puas kulihat punggungmu   Akh, mangkuk senyumku pasti sudah dingin sekarang   Sayang, […]