Sebuah Pesan

Katanya, warna kuning mewakili perasaan hangat dan bahagia. Itu juga yang aku ingin kamu rasakan di hari yang dingin dan berhujan seperti sekarang. Dunia, sayang, serupa permainan belaka. Hanya sementara. Maka, semangat yang membara saja. Biar nanti di penghujung hari akan Tuhan katakan, kamu sudah melakukan yang sebaik-baiknya bisa kamu lakukan sayang. Bahagialah sekarang dan […]

dari Sebelum Sendiri

Dia tidak menuliskan judulnya apa. Saya jadi sedikit kesulitan mencari judulnya di sini. Dan sebenarnya puisi ini sudah lama nyangkut di kepala, sudah sejak pertama bukunya datang dibungkus kertas cokelat, di depan pintu, beberapa waktu lalu. Saya gemas. Puisi ini harus ada di blog ini. Maka selamat menikmati… barangkali kau, barangkali aku, telah tersesat sungguh […]

Sebuah Perayaan

Aku tahu bahwa yang ingin kamu sampaikan lebih dari sekedar selamat. Bahwa kita mendamba serupa pesta. Perayaan. Merayakan kemenangan atau barangkali kekalahan. Di kebun belakang, tepat sebelum ribuan terompet dibunyikan. Atau kembang-kembang api dinyalakan. “Siapa lagi yang kau undang?” “Tak ada. Hanya kau.” Kamu mengangkat ujung kanan dan kiri bibirmu, menyuguhkan senyum terhangat di dunia. […]

Cinta, percaya

Perjumpaan denganmu selalu pasti menyenangkan – menenangkan. Penuh cerita perihal yang membikin pusing kepala, hingga hal-hal konyol yang membuat kita merasa menjadi seperti orang gila. Hidup katamu, baru terasa hidup ketika kamu berhasil melepaskan diri dari belenggu opini yang semena disematkan orang sebagai predikat atau kata sifat dalam serangkaian kalimat. Ada banyak suara yang tentunya […]

Keinginan Kemenangan

Kemenangan tidak pernah datang dengan mudah, atau mudah-mudahan. Kamu perlu berusaha, berdoa dan berkeinginan menjadi pemenang.¬†Ketiganya tentu sama penting. Tapi, mana yang layaknya menjadi dasar atau langkah awal sebuah kemenangan? -Doa, usaha, atau keinginan? Seseorang pernah bertanya tentang seberapa besar keinginanku menjadi pemenang. Ketika itu aku bilang cukup besar atau mungkin sangat besar, tapi jujur […]

Merah itu Berhenti

Sederet kalimat berputar ulang di kepala; merah itu berhenti. Logika sederhana, sesederhana ketika kamu melihat lampu merah di persimpangan jalan. Kamu harus berhenti atau mati. Ada jarak yang harus dijaga. Juga waktu untuk kembali melaju. Jangan menoleh, jalan di depan lebih memerlukan perhatian. Sesekali saja ketika rindu mungkin menggelayutimu, bolehlah pandangi ia di kejauhan. Sebentar […]